Minggu, 13 September 2026Indonesia
Kompasia
news

Demonstran di MH Thamrin Jakarta Tak Pergi Sampai Pemerintah Akui Kesalahan, Desak Perubahan

Oleh Pimpinan Redaksi Β· Juni 12, 2026 Β· 2 menit baca Penulis Terverifikasi
bc190a60 6c17 11ef b5b9 d3641244e201.png
βœ“ Penulis Verified

Massa Aksi Tetap Bertahan di Jalan MH Thamrin Hingga Malam Hari

Massa aksi yang terdiri dari mahasiswa, warga masyarakat, hingga pengemudi ojek online tetap berada di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, hingga menjelang malam pada Jumat, 12 Juni 2026. Meski langit mulai gelap dan matahari telah tenggelam, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda ingin beranjak dari lokasi tersebut. Di balik barisan aparat keamanan yang memblokade jalannya aksi, massa tetap bertahan dengan penuh semangat.

Hingga pukul 18.27 WIB, para peserta aksi terus berteriak dan menyanyikan lagu Buruh Tani. Mereka juga mengibarkan bendera universitas dan organisasi serta mengangkat poster-poster protes yang penuh dengan kalimat-kalimat tuntutan. Selain itu, massa aksi juga sesekali meneriakkan kata-kata revolusi sebagai bentuk kritik terhadap kinerja pemerintah. “Revolusi, revolusi, revolusi,” teriak massa secara bersamaan.

Mereka mengancam akan tetap bertahan di lokasi hingga pemerintah mengakui kesalahan atas kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai semakin membebani rakyat. “Kawan-kawan, kita tidak akan bubar dari tempat ini sebelum pemerintah mengakui kesalahannya,” ujar salah satu peserta aksi. Jawaban serupa langsung diberikan oleh massa lainnya dengan ucapan “Setuju.”

Tuntutan Utama Massa Aksi

Aksi unjuk rasa yang digelar pada hari Jumat tersebut merupakan hasil konsolidasi sejumlah organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat. Konsolidasi tersebut dilakukan di Universitas Indonesia (UI), Depok, pada Rabu (10/6/2026) malam. Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN) Symphati Dimas menjelaskan bahwa aksi ini dilakukan sebagai respons terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Menurut Dimas, Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, namun rakyatnya belum merasakan kesejahteraan yang layak. Ia juga menyebut bahwa Indonesia adalah negara besar, tetapi masih banyak penduduk yang belum terbebas dari rasa lapar dan kesulitan hidup.

Dalam konsolidasi tersebut, ikut serta berbagai organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat, seperti BEM fakultas se-UI, BEM IPB, Universitas Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta, UIN Jakarta, UPN Veteran Jakarta, Universitas Pancasila, Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), serta Front Mahasiswa Nasional (FMN).

Isu Ekonomi dan Kritik terhadap Kebijakan Pemerintah

Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi menyoroti kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Mereka juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Mahasiswa menilai pemerintah cenderung mengabaikan berbagai kritik yang berkembang di tengah masyarakat.

Selain itu, mereka turut menyoroti dugaan penggunaan aparat negara untuk membungkam pihak-pihak yang menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan utama, yaitu:

  • Mendesak pemerintah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
  • Meminta pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM).
  • Menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
  • Mendesak dihentikannya praktik militerisme di ranah sipil.
  • Meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah atas berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia