Ringkasan Berita:
- Usaha mencapai pariwisata yang berkelanjutan tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak.
- Kolaborasi antara kalangan akademisi, masyarakat, pemerintah, serta berbagai pihak terkait menjadi kunci utama dalam mengembangkan destinasi wisata yang dapat tumbuh tanpa mengorbankan nilai budaya dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
- Semangat tersebut muncul dalam penyusunan roadmap pengembangan pariwisata budaya dan ekowisata berkelanjutan di Dusun Kalipagu, yang diprakarsai oleh UT Purwokerto.
KOMPASIA.COM, Purwokertoβ Mencapai pariwisata yang berkelanjutan tidak mungkin dilakukan hanya oleh satu pihak. Keterlibatan bersama antara akademisi, masyarakat, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam mengembangkan destinasi wisata yang dapat berkembang tanpa mengorbankan nilai budaya dan menjaga kelestarian lingkungan.
Semangat tersebut muncul dalam penyusunan roadmap pengembangan wisata budaya dan ekowisata berkelanjutan di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas yang diprakarsai oleh Universitas Terbuka (UT) Purwokerto.
Dusun Kalipagu terkenal dengan kekayaan alam yang bersatu dengan tradisi budaya setempat yang masih terjaga. Terletak di kawasan lereng Gunung Slamet, dusun ini menyimpan berbagai potensi yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang berbasis budaya, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Keistimewaan ini menjadikan Kalipagu sebagai salah satu wilayah yang dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai tujuan wisata berkelanjutan di Kabupaten Banyumas.
Melalui kegiatan yang diadakan pada hari Kamis, 18 Juni 2026, tim akademisi UT Purwokerto bekerja sama dengan masyarakat setempat menggelar diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) untuk menyusun arah pengembangan wisata yang sesuai dengan ciri khas lokal.
Kegiatan ini berfungsi sebagai wadah untuk mengumpulkan berbagai ide dan harapan masyarakat mengenai pengelolaan potensi pariwisata yang tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga menjaga kebudayaan dan lingkungan.
Dalam penyusunan roadmap tersebut, berbagai faktor menjadi fokus utama, mulai dari pengenalan potensi wisata alam dan budaya, kondisi infrastruktur, profil wisatawan, hingga kesiapan sumber daya manusia setempat.
Pendekatan yang melibatkan partisipasi langsung masyarakat dianggap penting agar strategi pengembangan yang dibuat benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan situasi di lapangan.
Oleh karena itu, masyarakat tidak hanya dianggap sebagai pihak yang diberi pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama yang terlibat secara aktif dalam setiap tahap perkembangan wisata.
“Pengembangan pariwisata budaya tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam dan budaya yang ada di suatu wilayah. Kunci keberhasilannya berada pada kerja sama yang kuat antara kalangan akademisi dan masyarakat. Akademisi hadir untuk memberikan pendampingan berdasarkan ilmu pengetahuan, sedangkan masyarakat merupakan pemilik nilai-nilai budaya serta pengetahuan lokal yang menjadi ciri khas dari destinasi wisata tersebut. Bila keduanya bekerja sama, maka pengembangan pariwisata yang berkelanjutan akan lebih mudah tercapai,” kata Dewi Maharani Rachmaningsih, M.A., sebagai dosen Universitas Terbuka.
Pendekatan kerja sama juga menjadi strategi penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan upaya perlindungan lingkungan. Wisata yang berkembang tanpa perencanaan yang baik berisiko menimbulkan berbagai masalah, seperti kerusakan lingkungan, hilangnya nilai budaya, serta ketidakseimbangan manfaat ekonomi. Oleh karena itu, penyusunan rencana strategis dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kemampuan pendukung wilayah dan kapasitas masyarakat setempat.
Kepala UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si, menyampaikan bahwa kehadiran universitas memainkan peran penting dalam menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan berbagai konsep perkembangan yang berlandaskan penelitian dan data.
Pelaksanaan FGD mengundang beberapa tokoh akademis untuk berdiskusi bersama, antara lain Universitas Terbuka sebagai penyelenggara, Universitas Jenderal Soedirman, dan Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto.
Selain para akademisi, hadir pula tokoh praktisi dari Dinas maupun Pemda serta tokoh masyarakat. Bimbingan yang diberikan tidak hanya terbatas pada tahap perencanaan, tetapi juga fokus pada penguatan kemampuan masyarakat dalam mengelola destinasi wisata, mengembangkan produk ekonomi kreatif, serta meningkatkan mutu layanan kepada para wisatawan.
Kegiatan ini juga merupakan wujud nyata dari komitmen Universitas Terbuka Purwokerto dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pelayanan kepada masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menekankan akses dan pemberdayaan masyarakat, UT Purwokerto berupaya memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan potensi wilayah melalui pendekatan akademik yang praktis dan langsung bermanfaat bagi masyarakat.
Masyarakat Desa Kalipagu menyambut baik inisiatif tersebut. Mereka berharap rancangan yang sedang disusun dapat menjadi panduan dalam mengembangkan pariwisata yang tidak hanya menarik bagi para pengunjung, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Selain itu, partisipasi berbagai pihak dalam proses perencanaan dianggap memberi kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan dan ide mengenai masa depan desanya.
Hasil penyusunan roadmap ini diharapkan mampu menjadi pedoman dalam pengembangan wisata budaya dan ekowisata di Dusun Kalipagu.
Dengan menggabungkan kekayaan alam, pengetahuan tradisional, pemberdayaan warga, serta bantuan akademis yang berkelanjutan, Dusun Kalipagu memiliki kesempatan besar untuk menjadi contoh desa wisata yang tidak hanya menarik secara ekonomi, tetapi juga mampu melestarikan warisan budaya dan menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi berikutnya. (*)
π₯ Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang