Ringkasan Berita:
- Nama Syekh Nawawi Al-Bantani tetap diingat sebagai salah satu tokoh ulama Nusantara yang paling berpengaruh dalam dunia Islam.
- Pemimpin Ibadah Bandara PPIH Arab Saudi 2026, H. Dendi S. Yudha, menyampaikan bahwa karya-karya Syekh Nawawi masih menjadi acuan utama di pesantren dan institusi pendidikan Islam di berbagai negara karena memiliki makna ilmiah yang dalam dan bersifat global.
- Sementara para muridnya kemudian menjadi tokoh penting dalam perkembangan agama Islam di Indonesia.
Laporan Hasim Arfah
Jurnalis KPA NEWS – dan Pusat Media Haji 2026 dari Arab Saudi
KPA NEWS -, MADINAH— Nama Syekh Nawawi Al-Bantani masih menjadi salah satu tokoh ulama Nusantara yang paling dihormati dalam lingkungan Islam.
Warisan ilmu para ulama asal Tanara, Banten, masih dipelajari di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan Islam, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.
Pemimpin Ibadah (Bimbad) Bandara PPIH Arab Saudi 2026, H. Dendi S. Yudha, menyampaikan bahwa Syekh Nawawi adalah tokoh ulama yang memiliki pengaruh besar berkat karya-karya ilmiahnya.
“Syekh Nawawi Al-Bantani sangat terkenal di kalangan santri, ulama, dan pelajar Islam karena karyanya yang luar biasa dan mendunia,” kata Dendi saat diwawancarai di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, Kamis (25/6/2026).
Menurut Dendi, kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Nawawi hingga saat ini masih menjadi sumber utama dalam proses pembelajaran di berbagai pesantren.
Bahkan, karyanya juga menjadi bahan kajian bagi para ulama dan mahasiswa Muslim di berbagai penjuru dunia.
Ia menjelaskan bahwa Syekh Nawawi berasal dari Tanara, Banten.
Setelah memperdalam ilmu agama di kampung halamannya, Syekh Nawawi kemudian melanjutkan studinya ke Makkah yang pada masa itu menjadi pusat pendidikan Islam global.
“Di Makkah, beliau bukan hanya seorang murid, tetapi juga berkembang menjadi ulama besar yang mengajar banyak pencari ilmu dari berbagai negara,” katanya.
Dendi menjelaskan, pada masa itu para ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Makkah dikenal dengan julukan Al-Jawi.
Sebutan tersebut tidak hanya berlaku untuk ulama yang berasal dari Pulau Jawa, tetapi juga semua ulama yang datang dari wilayah Nusantara.
“Walaupun berasal dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau wilayah lain, mereka tetap disebut sebagai Al-Jawi,” katanya.
Menurutnya, tradisi ilmiah tersebut membantu para pelajar dari Nusantara membangun jaringan pendidikan yang kuat di Tanah Suci.
Dari lingkungan tersebut muncul banyak ulama besar yang kemudian memainkan peran penting dalam perkembangan agama Islam di Indonesia.
Dendi menyebutkan bahwa dampak Syekh Nawawi tidak hanya terlihat dari karyanya, tetapi juga melalui para muridnya yang nantinya menjadi tokoh penting di tanah air.
“Keturunan ilmiahnya menghasilkan banyak ulama besar Nusantara yang kemudian menjadi tokoh penting dalam perkembangan Islam di Indonesia,” katanya.
Selain diakui sebagai dosen besar, Syekh Nawawi juga terkenal sangat produktif dalam menulis kitab.
Menurut Dendi, beberapa penelitian mengatakan bahwa produktivitasnya sangat tinggi sehingga terlihat mampu menciptakan karya dalam waktu yang sangat cepat.
Di kalangan para ulama, muncul berbagai cerita mengenai keistimewaan ilmu yang dimiliki Syekh Nawawi.
Namun, Dendi menganggap produktivitas tersebut juga didukung oleh lingkungan akademis di Makkah yang memberikan ruang yang luas bagi para ulama untuk mengembangkan pemikiran dan menulis.
“Di Makkah, beliau mendapatkan lingkungan yang sangat mendukung sehingga mampu memaksimalkan potensi keilmuannya dan menghasilkan berbagai karya yang masih dipelajari hingga saat ini,” katanya.
Ia berharap pemuda Indonesia terus mengenali dan mempelajari gagasan Syekh Nawawi Al-Bantani sebagai salah satu warisan intelektual Islam Nusantara yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam dunia ilmu keagamaan Islam. (hasim arfah/mch 2026)
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang