Ipda Heru: Polisi, Imam, Khatib, Guru, dan Saudara

Laporan Jurnalis KPA NEWS -, Albert Aquinaldo KPA BERITA -, ENDE –Di tengah serangan kritik yang tajam terhadap lembaga Kepolisian…
1 Min Read 0 3

Laporan Jurnalis KPA NEWS -, Albert Aquinaldo

KPA BERITA -, ENDE –Di tengah serangan kritik yang tajam terhadap lembaga Kepolisian Republik Indonesia, masih ada seorang polisi yang bekerja secara diam-diam, melayani masyarakat dengan tulus.

Tanpa perhatian, tanpa pujian, dan tanpa tambahan apa pun, mereka tetap memberikan pelayanan, melindungi, serta menjaga masyarakat dengan hati.

Salah satu contohnya adalah Ipda Heru Sutaban, Kepala Sektor Polisi Pulau Ende di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Meskipun tugasnya jauh dari ibu kota kabupaten dan harus menyeberangi lautan, Ipda Heru tidak pernah malas dan tetap dekat dengan masyarakat.

Dekat dengan Masyarakat

Justru, perwira polisi pertama ini terkenal sangat dekat dengan warga masyarakat.

Pagi hari, ketika seluruh penduduk Kota Ende sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Ipda Heru mengendarai sepeda usangnya menuju Pelabuhan Rakyat Mbongawani.

Tidak ada kendaraan dinas, tidak ada pengawal, ia hanya berjalan sendirian bersama sepeda kesayangannya.

Ia akan kembali ke lokasi tugasnya di Pulau Ende menggunakan sebuah perahu kayu kecil yang mampu membawa sekitar 20-30 penumpang.

Di atas kapal, hampir seluruh penumpang mengenalinya.

“Selamat pagi, Pak Pol,”

“Selamat pagi, Om Pol,”

“Selamat pagi Pak Kapolsek,”

Berikut beberapa panggilan akrab yang digunakan masyarakat ketika bertemu di atas perahu kayu kecil tersebut.

Sapaan sederhana menunjukkan keakraban antara seorang perwira polisi tingkat pertama dengan masyarakat yang ia pimpin.

Ia menjawab satu per satu dengan ramah dan sesekali mengajak mereka berbincang sambil menunggu kapal lepas dari pelabuhan rakyat Mbongawani.

Selama perjalanan dari Kota Ende ke Pulau Ende yang memakan waktu sekitar 1,5 jam, Ipda Heru banyak berbincang dengan warga di atas kapal. Menceritakan berbagai hal sambil menikmati perjalanan laut.

Menginjak wilayah perairan Pulau Ende, kapal tidak langsung menuju pelabuhan utama, melainkan berhenti di beberapa desa di pulau tersebut untuk mengangkut penumpang.

Kapal tidak berlabuh di pelabuhan tetapi melepaskan jangkarnya di tepi pantai karena pada saat itu gelombang sedang tinggi. Akibatnya, para penumpang harus turun menggunakan perahu kecil dan kemudian dibawa ke daratan.

Beberapa penduduk yang melihat Ipda Heru di atas perahu kecil tersebut, langsung memanggil nama Ipda Heru.

“Om Pol, sebentar lagi malam kita pergi memancing,” teriak mereka dari daratan.

Itu memang hanya sekadar sapaan santai, tetapi menunjukkan bukti nyata kedekatan seorang perwira polisi muda dengan warga di tempat ia bertugas.

Kapal kembali mengangkat jangkar dan bergerak menuju pelabuhan Pulau Ende.

Pulau yang hampir seluruh penduduknya beragama Islam dan menggantungkan hidup sebagai nelayan.

Pulau yang terpencil dari kebisingan dan keramaian Kota Ende yang dikenal sebagai Kota Pancasila.

Saat tiba di pelabuhan, Ipda Heru melepaskan sepedanya dan mulai mengayuh perlahan menuju Mapolsek. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 20-30 menit jika ditempuh dengan sepeda.

Jalan yang masih dalam kondisi rabat, ia menyapa dan dihormati oleh warga. Gambaran dekatnya Ipda Heru dengan masyarakat langsung terlihat dari saling sapa yang sederhana itu.

Sesampainya di Mapolsek, ia meletakkan tas pakaian di rumah dinas, masuk ke kamar mandi, lalu membawa sebuah ember kecil keluar dari rumah dinas menuju sumur yang terletak di belakang Mapolsek.

Tidak ada mesin penghisap air, ia mengangkatnya secara manual.

“Di sini tidak menggunakan mesin penyedot air karena kadar garamnya tinggi, Ae Mesi orang Ende mengatakan, jadi jika menggunakan mesin akan cepat berkarat, jadi kita gunakan cara manual saja sekaligus olahraga,” kata Ipda Heru sambil tertawa.

Air digunakan untuk berwudhu. Karena hari itu adalah hari Jumat, saatnya Ipda Heru melaksanakan salat Jumat.

Setelah melakukan wudhu, ia mempersiapkan diri untuk pergi ke Masjid Nurul Hidayah yang tidak jauh dari Mapolsek. Ia menjadi imam salat Jumat dan juga sebagai khatib pada hari itu.

Di Pulau Ende, Ipda Heru Sutaban bukan hanya seorang Kapolsek, tetapi juga seorang imam yang sekaligus menjadi khatib dalam sholat Jumat.

Tidak lagi hal yang asing bagi Ipda Heru, tetapi sering ia lakukan, bahkan sebagian warga Pulau Ende menyebutnya dengan sebutan Pak Haji atau Pak Ustadz.

Sebelum memasuki Masjid dan memimpin salat Jumat serta menjadi khatib, ia sempat menghentikan seorang pelajar perempuan yang sedang mengendarai sepeda motor dan lewat di depan Masjid tanpa menggunakan helm.

“Kami akan pergi ke mana, nak? Kamu anak siapa? Mengapa tidak memakai helm? Untuk keselamatan, sebaiknya pakai helm jangan menunggu ada tilang terlebih dahulu, jangan menunggu kecelakaan baru memakai helm, jangan menunggu ada polisi terlebih dahulu tetapi harus sadar dan taat dalam memakai helm saat berkendara,” tegur Ipda Heru dengan tegas namun penuh nasihat.

Ia tidak langsung memberikan hukuman, tidak memberikan sanksi yang keras, tetapi memerintahkannya untuk membaca ayat Kursi atau ayat-ayat Al-Quran lainnya.

Sanksi yang terlihat sederhana namun sangat bermanfaat. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa Polisi tidak selalu sama dengan tilang, teguran tajam atau citra yang menakutkan.

Setelah memberikan nasihat, dia masuk ke dalam masjid untuk memimpin shalat Jumat.

“Jagalah dan jaga dirimu serta keluargamu agar terhindar dari api neraka, sebagai umat Islam seharusnya memiliki iman kepada Allah SWT, sebagai umat Islam, mari kita tidak pernah melewatkan membaca Al-Qur’an, tidak pernah hari tanpa mengaji,” demikian sebagian isi khotbah Ipda Heru di hadapan jemaat yang hadir pada saat itu.

Setelah memberikan khutbah, ia memimpin shalat Jumat dengan penuh khusyuk.

Ia tidak hanya dekat dengan masyarakat Pulau Ende, tetapi juga menjadi imam bagi mereka. Memimpin sambil membimbing, melindungi sekaligus memberikan petunjuk, menjaga sambil menjadi guru dalam kehidupan.

“Alhamdulillah, kehadiran Pak Heru di sini sangat membantu kami karena beliau sangat aktif dalam berinteraksi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Selain itu, beliau juga aktif di Masjid sebagai khatib dan imam. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh beliau kepada masyarakat sangat manusiawi, hal ini patut menjadi contoh bagi polisi-polisi lainnya. Beliau seperti Pak Hoegeng, bukan hanya seorang polisi biasa tetapi lebih dari itu,” ujar Husni Muksen, ketua Takmir Masjid Nurul Hidayah setelah salat Jumat.

Shalat telah selesai tetapi tugas sebagai pelayan masyarakat belum berakhir.

Ia kembali mengayuh sepedanya menuju Polsek, menyimpan sajadah, lalu melanjutkan tugasnya sebagai seorang polisi.

Sepeda lama yang disukainya kembali dikayuh melewati lorong-lorong jalan rabat di Pulau Ende. Tidak ada jalan aspal di pulau tersebut, hanya terdapat jalan rabat di pulau yang terdiri dari satu kecamatan dan 9 desa.

Seperti biasanya, sepanjang koridor, dia menyapa dan juga dijawab sapaannya, baik tua maupun muda serta anak-anak mengenalnya.

Bila menemukan pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm, para pelajar diberi hukuman berupa membaca ayat kursi atau ayat-ayat Al-Quran lainnya. Setelah membaca ayat tersebut, mereka diminta kembali ke rumah untuk mengambil helm sebelum melanjutkan perjalanan. Orang dewasa juga tidak terkecuali.

Namun, bagi orang dewasa, hanya diberikan peringatan keras dan diminta untuk kembali ke rumah untuk mengambil helm sebelum melanjutkan perjalanan.

Itulah cara Ipda Heru menjaga keselamatan lalu lintas di Pulau Ende.

“Kaki palsu bisa dibeli, rumah tangan palsu juga bisa dibeli, namun kepala palsu tidak pernah dijual,” itulah kalimat yang sering ia ucapkan kepada para pelanggar.

Setelah menyelesaikan tindakan, ia melanjutkan patroli dan mengunjungi masyarakat.

Sampai ia berhenti di sebuah rumah yang terletak di salah satu lorong, yaitu Tempat Pengajian Al-Qur’an (TPA). Berhenti mengendarai sepedanya, ia membuka tasnya lalu mengambil kopiah putih.

Ia kemudian memasuki rumah tersebut, ternyata di ruang tamu terdapat Haji Muhammad Sulaiman, seorang imam dari Pulau Ende, beserta beberapa anak yang masih duduk di bangku SD menunggunya.

Ternyata pada hari itu, ia memiliki jadwal mengajar ngaji. Ia bersama Haji Muhammad Sulaiman sama-sama mengajar ngaji kepada anak-anak di Pulau Ende.

Ternyata Ipda Heru bukan hanya seorang petugas kepolisian biasa, ia juga seorang pendeta, khatib, polisi lalu lintas, serta guru mengaji.

Setelah menyelesaikan tugas mulia tersebut, tugasnya belum selesai.

Ia melanjutkan kembali patroli dengan mengendarai sepedanya, menyapa penduduk, mengawasi keadaan lalu lintas di jalan-jalan yang terbuat dari batu di pulau tersebut, bahkan memberi sedekah kepada warga yang memerlukan.

Sedekah yang dilakukan Ipda Heru Sutaban bukanlah hal baru di Pulau Ende, namun di tempat tugas sebelumnya pun, ia telah terbiasa memberi sedekah dan membantu masyarakat yang kurang mampu.

Bukan sekadar cerita, ini kisah asli mengenai dedikasi seorang perwira polisi di daerah terpencil Nusantara.

Meski hanya delapan bulan menjabat sebagai Kapolsek di Polsek Pulau Ende, ia telah mengunjungi sembilan desa di Kecamatan Pulau Ende.

Entah bertugas sebagai pendeta dan pemimpin shalat atau melakukan patroli serta kunjungan ke warga dan lebih dekat dengan masyarakatnya.

Bahkan saat kunjungan Kapolres Ende AKBP Yudhi Franata beberapa waktu lalu ke Pulau Ende, warga tidak ragu-ragu memohon agar Ipda Heru Sutaban tetap bekerja di Pulau Ende hingga masa pensiunnya tiba.

“Kepala Kapolres, mohon izin, sebaiknya Pak Kapolsek ini (Ipda Heru Sutaban) tidak segera dipindahkan dari Pulau Ende, kami masih membutuhkannya, sebaiknya sampai beliau pensiun tetap berada di sini,” ujar salah satu tokoh masyarakat kepada AKBP Yudhi Franata.

Permintaan yang sederhana namun penuh makna tentang kedekatan Kapolsek dengan masyarakatnya.

Tidak ada habisnya kata-kata yang mampu menggambarkan perjalanan panjang pengabdian Ipda Heru Sutaban.

Pada malam hari, saat sejumlah anggota Polsek Pulau Ende sedang bertugas dan beristirahat, ia justru sering menghabiskan waktu luangnya dengan bergabung bersama para nelayan dalam perahu mencari ikan.

Setelah jam kerja, kita berkunjung atau bergabung dengan nelayan mencari ikan, sejak tadi habis azhar, tujuannya adalah untuk membangun kemitraan dengan nelayan, sesuai pesan Bapak Kapolda NTT agar polisi hadir di mana saja, di sekolah, di tempat ibadah, di komunitas-komunitas termasuk di komunitas nelayan ini karena memang sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sini adalah nelayan,” ujar Ipda Heru saat berada di tengah laut, terombang-ambing bersama para nelayan di sebuah perahu kecil.

Para nelayan di Pulau Ende, Ipda Heru Sutaban bukan hanya seorang Kapolsek, tetapi sudah dianggap sebagai keluarga.

“Pak Kapolsek ikut berlayar bersama kami,” kata Muhaimin, seorang nelayan Pulau Ende yang malam itu kembali berlayar bersama Ipda Heru.

“Beliau sangat dekat dengan kami para nelayan, mengawasi kami, mendukung kami, beliau seperti saudara bagi kami,” kata Jainudi, seorang nelayan lainnya.

Bagi penduduk Pulau Ende, Ipda Heru Sutaban tidak hanya hadir sebagai Kapolsek, tetapi juga sebagai imam, khatib, guru mengaji, teman serta saudara.

Kisah ketaatan Ipda Heru Sutaban di Pulau Ende mencerminkan keberadaan Polri yang dekat dengan masyarakat, sehingga masyarakat percaya pada Polri. (Bet)

Berita KPA NEWS – Lainnya di Google News

856SHARES9.7kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia