Cuaca Ekstrem Ancam Kabupaten Bangka Barat, Tiga Kecamatan Berisiko Karhutla

MENTOK, BABEL NEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangka Barat mengidentifikasi beberapa daerah yang rentan terjadi kebakaran hutan…
1 Min Read 0 1

MENTOK, BABEL NEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangka Barat mengidentifikasi beberapa daerah yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi cuaca yang sangat panas. Data tersebut dikategorikan berdasarkan setiap kecamatan. Dari total 6 kecamatan di Kabupaten Bangka Barat, tiga di antaranya termasuk dalam kategori tinggi risiko karhutla.

“Ketiga kecamatan yang rentan kebakaran hutan dan lahan adalah Jebus, Simpang Teritip, dan Mentok,” ujar Kepala BPBD Bangka Barat, Safrizal, Selasa (7/7).

Sementara tiga kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan Parittiga, Kelapa, dan Tempilang, termasuk dalam kategori sedang.

Safrizal mengatakan, penentuan klasifikasi tersebut didasarkan pada dokumen kejadian luar biasa (KLB) yang merujuk pada risiko bencana yang telah dibuat pada tahun 2022. “Untuk Jebus tinggi, Simpang Teritip tinggi, Mentok tinggi, sementara yang lainnya sedang,” katanya.

Ia mengatakan, pada tahun 2026 ini, kasus kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Bangka Barat tergolong masih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, sepanjang tahun 2026, diketahui terdapat dua laporan kejadian karhutla. Dua peristiwa tersebut terjadi di Kecamatan Mentok yang menyebabkan kebakaran hutan atau lahan seluas kurang dari 5 hektare.

Menurutnya, meskipun saat ini terjadi fenomena el nino godzila, kawasan Sumatera masih mendapat manfaat dari gelombang kelvin yang memicu penurunan curah hujan. “Oleh karena itu, meskipun cuacanya terasa panas, sesekali tetap ada hujan yang turun. Hal ini membantu kita menghindari kebakaran hutan dan kekeringan,” katanya.

Safrizal menambahkan, berdasarkan pembaruan data dari BMKG, dari total 18 titik panas di Bangka Belitung, terdapat dua titik panas di Bangka Barat, yaitu di Kecamatan Simpang Teritip. Ia menyebutkan, titik panas yang muncul tersebut berada di area hutan.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. “Saat ada pembaruan data terkait titik panas, kami segera memberikan sosialisasi dan himbauan melalui kecamatan dan desa setempat,” katanya.

Meski ada risiko kebakaran hutan dan lahan, Safrizal mengatakan bahwa Bangka Barat masih terhindar berkat adanya hujan yang dalam seminggu paling tidak terjadi satu kali. “Terkadang lima hari panas, lalu diikuti hujan. Selain itu, pembukaan lahan oleh masyarakat juga sudah mulai menurun,” katanya.(u2)

Dibantu oleh Hujan dari Gelombang Kelvin

BADANPengelolaan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangka Barat mencatat terjadinya penurunan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2026. Sampai saat ini, dilaporkan hanya terjadi dua kasus karhutla, keduanya berada di wilayah Kecamatan Mentok.

“Pada tahun 2026 ini hanya terjadi dua kejadian, bahkan dampaknya termasuk kecil, kurang dari 5 hektar,” ujar Kepala BPBD Bangka Barat, Safrizal, Rabu (8/7).

Meskipun menghadapi fenomena El Nino Godzilla, angka kebakaran hutan dan lahan tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Tahun lalu juga relatif sedikit, yang parah terjadi pada tahun 2023 dan 2024, di mana luas hutan atau lahan yang terbakar mencapai puluhan hektar, hampir setiap hari muncul titik panas,” jelasnya.

Namun pada tahun ini, meskipun cuaca panas berlangsung cukup lama, wilayah Sumatera Indonesia masih mendapat manfaat dari gelombang kelvin sehingga hujan sering terjadi. Keberadaan gelombang kelvin ini memicu pembentukan awan hujan, sehingga dampak el nino godzila dapat sedikit diminimalisir.

Ia mengakui, hujan masih sering turun rata-rata setiap lima hari sekali. Sementara itu, pada bulan Agustus hingga September 2026, diprediksi curah hujan akan turun sekitar sepuluh hari sekali. “Alhamdulillah kita rata-rata turun hujan setiap lima hari sekali. Yang berbahaya itu jika tidak ada hujan selama 30 hari,” katanya.(u2)

868SHARES5.6kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia