Minggu, 13 September 2026Indonesia
Kompasia
news

APBN Terjepit Geopolitik, Pemangkasan Anggaran MBG Lebih Realistis daripada Kenaikan Harga BBM Subsidi

Oleh Pimpinan Redaksi Β· Maret 8, 2026 Β· 3 menit baca Penulis Terverifikasi
ee6b1ec0 2d73 11ed b47b f50030c4c6e9.jpg
βœ“ Penulis Verified

Tantangan APBN Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia

Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, termasuk pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kenaikan harga minyak dunia yang disebabkan oleh ketegangan di kawasan tersebut memicu tekanan terhadap anggaran negara. Hal ini mengarah pada pertanyaan penting tentang bagaimana pemerintah akan merespons jika defisit APBN melebihi batas yang ditetapkan.

Dalam situasi seperti ini, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menilai bahwa rasionalisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih realistis dibandingkan menaikkan harga BBM subsidi. Menurutnya, kebijakan penyesuaian anggaran MBG dapat dilakukan tanpa menyentuh inti program, sementara kenaikan harga BBM berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat.

Dampak Ekonomi Jika Harga BBM Naik

Peningkatan harga BBM bersubsidi bisa berdampak signifikan pada inflasi, biaya transportasi, serta daya beli masyarakat. Hal ini sangat berpengaruh karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan kontribusi sekitar 53–54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih bijaksana untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan kesejahteraan rakyat.

Strategi Efisiensi dalam Pengelolaan APBN

Pemerintah telah melakukan simulasi risiko terhadap berbagai skenario kenaikan harga minyak. Salah satu skenario yang diuji adalah jika harga minyak mentah mencapai US$ 92 per barel dalam setahun. Dalam kondisi tersebut, defisit APBN bisa melebar hingga 3,6 persen terhadap PDB jika tidak ada tindakan penyesuaian.

Menurut Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, pemerintah akan terlebih dahulu melakukan efisiensi belanja negara sebelum mempertimbangkan penyesuaian harga BBM subsidi. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penghematan pada sejumlah komponen belanja dalam program MBG. Namun, ia menegaskan bahwa anggaran utama yang berkaitan langsung dengan penyediaan makanan bagi penerima manfaat tetap akan dipertahankan.

Prioritas Program dan Penyesuaian Anggaran

Selain efisiensi dalam program MBG, pemerintah juga mempertimbangkan penundaan sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years atau dapat digeser ke tahun berikutnya. Ini bertujuan untuk menjaga kesehatan fiskal negara tanpa mengorbankan pembangunan jangka panjang.

Purbaya menekankan bahwa pemerintah memiliki pengalaman menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah melalui periode ketika harga minyak mencapai sekitar 150 dollar AS per barrel. Meskipun ekonomi melambat, Indonesia berhasil mengatasi situasi tersebut. Oleh karena itu, pemerintah tetap optimis dalam menghadapi tantangan ini.

Langkah-Langkah Jangka Panjang

Untuk menjaga disiplin fiskal, pemerintah perlu melakukan prioritisasi belanja melalui evaluasi program dan spending review. Anggaran harus difokuskan pada program dengan dampak ekonomi paling besar, terutama yang mendorong produktivitas dan penciptaan lapangan kerja.

Di sisi lain, penguatan penerimaan negara juga menjadi kunci. Rasio pajak Indonesia yang masih sekitar 10–11 persen terhadap PDB menunjukkan ruang peningkatan yang cukup besar dibandingkan negara emerging market lain. Perluasan basis pajak, peningkatan kepatuhan, serta perbaikan kualitas belanja menjadi langkah penting untuk menjaga disiplin fiskal tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Kesimpulan

Dengan berbagai opsi kebijakan yang tersedia, pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga defisit APBN tetap berada di bawah batas aman 3 persen dari PDB. Selain itu, pemerintah akan terlebih dahulu menempuh langkah-langkah penyesuaian belanja agar defisit tetap terkendali. Dengan strategi yang tepat, Indonesia siap menghadapi tantangan ekonomi global sambil tetap menjaga kesejahteraan rakyat.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia