Penyebab Banjir di Kawasan Perkotaan Akibat Urbanisasi
Setiap musim hujan tiba, banjir sering kali menjadi masalah yang mengganggu kehidupan warga perkotaan. Jalanan yang tergenang air, rumah yang terendam, dan aktivitas masyarakat yang terhenti dalam hitungan jam adalah bukti nyata bahwa banjir tidak hanya sekadar fenomena alam, tetapi juga hasil dari perubahan lingkungan yang disebabkan oleh urbanisasi. Lantas, mengapa banjir semakin sering terjadi di kota-kota besar?
Urbanisasi yang berlangsung pesat dan sering kali tidak terkendali menjadi salah satu penyebab utama. Proses ini memicu perubahan drastis pada lingkungan sekitar, termasuk pengurangan ruang hijau, penutupan tanah dengan beton, serta kesulitan dalam sistem drainase. Dari sinilah berbagai masalah mulai muncul, menjadikan kota lebih rentan terhadap banjir.
1. Peningkatan Aliran Permukaan
Urbanisasi menyebabkan pembangunan permukaan yang tidak menyerap air, seperti jalan aspal, gedung-gedung, dan area parkir. Hal ini mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan, sehingga air mengalir di permukaan dengan cepat. Proses ini dikenal sebagai peningkatan aliran permukaan.
Di daerah perkotaan, aliran permukaan bisa mencapai jumlah yang sangat besar, melebihi kapasitas sistem drainase. Akibatnya, banjir bandang sering terjadi, yang dapat merusak properti dan mengancam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pengelolaan aliran permukaan sangat penting untuk mengurangi risiko banjir.
2. Kelebihan Beban Sistem Drainase
Pembangunan kota yang pesat sering kali diiringi dengan perencanaan yang tidak optimal. Sistem drainase yang awalnya dirancang untuk kebutuhan yang lebih rendah kini harus menangani volume air yang jauh lebih besar. Hal ini membuat sistem drainase kewalahan dan tidak mampu menangani aliran air hujan secara efektif.
Selain itu, peningkatan jumlah bangunan dan permukaan kedap air meningkatkan jumlah air limbah yang harus ditangani. Akibatnya, sistem drainase tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk mengelola semua air tersebut, sehingga banjir lebih mudah terjadi.
3. Perambahan Dataran Banjir
Di daerah padat penduduk, dataran banjir sering kali dijadikan lahan untuk pembangunan. Padahal, dataran banjir memiliki fungsi alami untuk menyerap dan menyimpan air saat hujan deras. Ketika dataran ini dibangun, kemampuan alami tersebut hilang, sehingga air yang seharusnya diserap langsung mengalir ke sungai atau saluran drainase.
Akibatnya, volume air yang mengalir ke hilir meningkat, meningkatkan risiko banjir di wilayah-wilayah yang berada di bawahnya. Ini membuat kota semakin rentan terhadap banjir, terutama saat curah hujan tinggi.
4. Hilangnya Retensi Air Alami
Lahan basah, hutan, dan dataran banjir secara alami berperan sebagai penyerap air. Namun, urbanisasi menghancurkan fitur-fitur ini untuk memberi ruang bagi pembangunan. Akibatnya, air hujan tidak lagi dikelola oleh ekosistem alami, melainkan langsung mengalir ke sungai atau saluran drainase.
Perluasan wilayah perkotaan yang tidak terkendali menyebabkan air hujan mengalir lebih cepat, sehingga puncak banjir meningkat. Di banyak kota, hal ini memperparah risiko banjir, terutama di daerah yang sudah memiliki infrastruktur drainase yang kurang memadai.
5. Perencanaan dan Penggunaan Lahan yang Buruk
Pembangunan yang tidak terencana, terutama di zona rawan banjir, sering kali mengabaikan hidrologi alami. Daerah yang dulunya bisa menyerap air kini menjadi lokasi berisiko tinggi. Area kedap air yang terkonsentrasi di satu kawasan menyebabkan aliran air hujan terkumpul lebih cepat dan deras, meningkatkan risiko banjir bandang.
Di Indonesia, misalnya, perluasan kota berkorelasi langsung dengan peningkatan frekuensi banjir. Ini menunjukkan bahwa perencanaan tata ruang yang baik sangat penting untuk mencegah banjir.
6. Dampak Perubahan Iklim
Urbanisasi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Semakin banyak orang pindah ke kota, semakin tinggi permintaan energi dan sumber daya. Hal ini menyebabkan peningkatan produksi emisi gas rumah kaca, yang berdampak pada frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem seperti badai dan banjir.
Dengan demikian, banjir di perkotaan bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga konsekuensi dari perubahan iklim yang dipengaruhi oleh urbanisasi. Karena itu, perlu adanya solusi mitigasi yang berkelanjutan.
Bersiap untuk Hal yang Tak Terhindarkan
Meskipun urbanisasi tidak bisa dihentikan sepenuhnya, kita bisa mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak negatifnya. Salah satunya adalah dengan berinvestasi dalam solusi mitigasi banjir, seperti sistem peringatan dini, infrastruktur fisik (tanggul, biopori, sumur resapan), dan pelatihan kesiapsiagaan masyarakat.
Dengan mengambil langkah proaktif, kota dapat menjadi lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan banjir di masa depan. Selain itu, perlu adanya pengelolaan tata ruang, ruang hijau, dan sistem drainase yang berkelanjutan untuk mengurangi risiko banjir.
Pemahaman akan hubungan antara urbanisasi dan banjir menjadi langkah awal untuk menciptakan kota yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi warganya.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
