Opini Rakyat
Ada satu hal yang belakangan ini dirasakan banyak pelaku usaha, perbankan, hingga pasar keuangan: kebijakan fiskal dan keuangan negara terasa lebih membumi. Tidak banyak retorika. Tidak berlebihan teori. Tapi langsung menyentuh denyut lapangan. Fenomena ini oleh sebagian kalangan mulai disebut sebagai “Efek Purbaya.”
Bukan karena sosoknya viral, bukan pula karena pencitraan, melainkan karena cara kerja kebijakan yang terasa berbeda dibanding era-era sebelumnya.
Dari Ruang Kelas ke Ruang Mesin
Selama bertahun-tahun, pengelolaan keuangan negara kerap didominasi pendekatan akademik:
- model makro
- asumsi ideal
- kurva dan proyeksi
Semua penting. Namun sering kali realitas di lapangan berjalan lebih kasar daripada teori.
Di sinilah perbedaan mulai terasa. Purbaya—yang lama berkutat di dunia pasar keuangan, perbankan, dan pengelolaan institusi besar—tidak memandang ekonomi hanya sebagai angka di laporan, tetapi sebagai ekosistem manusia, perilaku, kepanikan, kepercayaan, dan timing.
Kebijakan tidak hanya ditanya: “benar secara teori?”
Tetapi juga: “apakah sistem ini sanggup menjalankannya?”
Memahami Pasar, Bukan Menggurui Pasar
Pasar tidak selalu rasional. Pelaku usaha tidak selalu ideal. Bank tidak selalu steril. Dan birokrasi hampir tidak pernah sempurna.
Pemimpin yang memahami lapangan:
- tahu kapan aturan harus tegas
- tahu kapan fleksibilitas justru menyelamatkan sistem
- paham bahwa stabilitas kadang lahir dari keputusan yang tidak populer
Berbeda dengan pendekatan yang terlalu teoritis, yang sering kali terjebak pada konsistensi model, tapi gagap saat berhadapan dengan anomali nyata.
Ekonomi Bukan Soal Paling Pintar, Tapi Paling Paham
Ada kesalahpahaman lama di republik ini:
bahwa pemimpin terbaik adalah yang paling menguasai teori.
Padahal sejarah—baik di pemerintahan maupun dunia usaha—menunjukkan hal lain:
Yang menentukan keberhasilan adalah mereka yang paling memahami bagaimana sistem benar-benar bekerja.
Bukan sekadar tahu rumus, tapi tahu:
- di mana bottleneck terjadi
- di mana kebocoran biasa muncul
- dan di mana keputusan harus diambil cepat, meski risikonya besar
Pola Kepemimpinan yang Berulang
Fenomena ini bukan hal baru. Kita pernah melihat pola serupa pada figur-figur eksekutor:
- keras
- lugas
- sering tidak diplomatis
- tapi efektif
Mereka bukan tipe pemimpin yang ingin dipuja, melainkan ingin sistem berjalan.
Dan sering kali, tipe seperti ini baru dihargai setelah krisis berhasil dilewati, bukan saat keputusan diambil.
Pelajaran Penting bagi Negara dan Dunia Usaha
Efek Purbaya seharusnya dibaca lebih dalam, bukan sekadar soal figur, tapi soal paradigma:
- Negara tidak kekurangan orang pintar
- Negara justru kekurangan pemimpin yang pernah berkotor tangan di lapangan
Begitu pula dunia usaha:
janji murah, cepat, dan instan sering kalah oleh mereka yang jujur soal risiko, regulasi, dan proses.
Penutup
Keuangan negara tidak runtuh karena kurang teori,
melainkan karena keputusan diambil tanpa pemahaman realitas.
Jika hari ini kebijakan terasa lebih membumi, lebih responsif, dan lebih pragmatis, maka mungkin kita sedang menyaksikan satu hal penting: kembalinya peran praktisi dalam ruang kebijakan publik.
Dan bagi rakyat, itu bukan soal siapa orangnya,
tetapi apakah sistemnya benar-benar bekerja.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
