Ringkasan Berita:Β
- Gundhissos yang dikenal dengan panggilan Gundhi, profesi sebagai Master of Ceremony (MC) bukan hanya tentang kemampuan berbicara yang lancar, tetapi juga seni memahami manusia dan mengasah pikiran.
- Mulai merintis karier dari bawah sejak masa kuliah di UGM pada tahun 2005, Gundhi awalnya menggunakan pekerjaan sambilan ini sebagai penghasilan tambahan untuk menunjang studinya.
- Menggunakan metode belajar melalui tindakan, ia mampu membentuk mental yang kuat sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke sekolah MC formal Lucy Laksita pada tahun 2011 guna menguasai tata cara acara resmi.
KOMPASIA.COM, YOGYAβ Tugas sebagai pembawa acara atau Master of Ceremony (MC) sering dianggap remeh sebagai pekerjaan yang hanya membutuhkan kemampuan berbicara lancar di depan panggung.
Namun, bagi pria asli Yogyakarta, Gundhissos atau dikenal dengan panggilan Mas Gundhi, pekerjaan ini merupakan seni dalam memahami manusia, melatih pikiran, sekaligus jalan hidup yang memberinya penghidupan.
Memulai kariernya dari bawah sejak masa kuliah, Gundhi kini berkembang menjadi salah satu tokoh MC senior yang dihormati di Yogyakarta. Di balik gaya bicaranya yang santai, ia memiliki prinsip kerja yang mendalam serta komitmen tinggi terhadap bidangnya.
Perjalanan karier Gundhi di dunia hiburan tidak terjadi secara tiba-tiba. Semua dimulai sekitar tahun 2005 atau 2006, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Awalnya, ia hanya bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman di sekitar kampus. Dari lingkaran pertemanan terdekat tersebut, benih kepercayaan mulai berkembang. Gundhi mulai diminta untuk memimpin acara di berbagai fakultas, mulai dari Sastra, Hukum, Filsafat, Teknik, hingga Pertanian.
Akhirnya, jaringannya berkembang melebihi UGM. Pekerjaan sampingan yang awalnya dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang ini akhirnya berubah menjadi penghasilan utama yang sangat berguna bagi masa mudanya.
“Kuliah memiliki kewajiban utama yaitu belajar. Pekerjaan sampingan saya saat itu adalah menjadi MC. Ternyata hasilnya bisa digunakan untuk menutupi biaya pendidikan,” kenang Gundhi.
Pada awal memulai karier, Gundhi mengakui bahwa ia sepenuhnya menggunakan pendekatan belajar sambil berpraktik atau belajar melalui pengalaman langsung.
Tanpa adanya pelatihan khusus, ia langsung memasuki lapangan, mencoba berbagai panggung, menghadapi penilaian, dan seringkali menerima teguran tajam dari pihak penyelenggara acara. Pengalaman “mencoba-coba” inilah yang justru melatih ketangguhannya.
Namun, ia menyadari bahwa pengalaman dalam bidang kasual dan acara luar ruangan yang tidak resmi saja tidak cukup. Untuk memasuki acara-acara yang formal dengan aturan, protokol, dan teori khusus, Gundhi memutuskan untuk mengambil tindakan berani.
Sekitar tahun 2011 atau 2012, ia memutuskan untuk bergabung dengan sekolah MC yang dijalankan oleh tokoh legendaris Yogyakarta, Lucy Laksita. Langkah ini berhasil menggabungkan bakat humor santainya dengan etika panggung yang profesional.
Bukan hanya sekadar pengikut susunan acara
Bagi Gundhi, seorang MC bukan hanya alat yang membacakan jadwal acara, tetapi harus memiliki rasa humor dan kesadaran sosial yang tinggi.
Bagi dia, rasa humor bukan hanya sekadar bahan lucu di panggung, tetapi menjadi alat komunikasi yang penting untuk menciptakan suasana yang lebih hangat dan mempererat hubungan dengan klien serta penonton, baik yang berada di depan maupun di belakang panggung.
Selain itu, keahlian seorang pembawa acara diuji melalui kemampuannya dalam mengenali suasana dan sifat psikologis para penonton.
Gundhi menceritakan pengalamannya dalam memandu acara roadshow sebuah perusahaan pembiayaan di kawasan Pantura. Sifat penonton yang responsif di daerah dengan suhu tinggi membuatnya lebih waspada agar acara tidak berakhir kacau saat hiburan musik dimulai.
“Selain itu, kita juga perlu mampu mengenali sifat seseorang. Misalnya, Bapak ini memiliki tingkat ekonomi di posisi tertentu, maka dia pasti memiliki referensi komunikasi atau selera humor yang serupa. Kita perlu cerdas dalam membaca situasi,” jelasnya tentang pentingnya penyesuaian gaya berbicara.
Ia juga menekankan bahwa kegagalan suatu acara sering kali terjadi secara bersamaan. Gundhi pernah mengalami masa di mana gagasan acara tidak sesuai karena koordinasi yang salah antara pihak penyelenggara dengan preferensi nyata para penonton di lapangan. Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa MC merupakan bagian dari satu tim yang utuh.
Mengamati perkembangan industri saat ini, Gundhi menganggap profesi MC di Yogyakarta telah berkembang sangat pesat menjadi bidang usaha yang menjanjikan.
Dulunya, seorang MC diharuskan menjadi ahli umum yang mampu memandu berbagai jenis acara, tetapi kini industri telah berkembang menjadi berbagai bidang spesialisasi yang ketat, mulai dari MC pernikahan, konser musik, acara olahraga, hingga pertemuan perusahaan (MICE).
Bagi para MC muda yang ingin masuk ke dunia ini, ia menyampaikan pesan sederhana namun penting: mulailah dengan menjalani dan segera perhatikan celah kesempatan.
Gundhi secara bijaksana menyatakan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh MC muda saat ini adalah hal yang wajar sebagai bagian dari proses pembelajaran, hal yang sama juga pernah ia lakukan di masa lalu.
Saat ditanya tentang tujuan pribadinya di dunia hiburan, Gundhi memberikan jawaban yang penuh refleksi. Ia tidak lagi berusaha mencari ketenaran hanya untuk dirinya sendiri atau sekadar menjadi MC dengan bayaran tertinggi, tetapi ingin diakui sebagai sosok MC yang memiliki budaya.
“Jika kita hanya fokus pada mencari uang, selama kita bersedia bekerja pasti akan mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang. Namun dalam profesi ini terdapat etika kerja, standar operasional prosedur, serta cara untuk berkembang dengan menyerap kebijaksanaan dari nilai-nilai yang berlaku di tengah masyarakat,” tutup Gundhi mengakhiri pembicaraan.(nto)
π₯ Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang