Hari Perumahan Nasional di Indonesia dan Peringatan Penting Lainnya pada Tanggal 25 Agustus
Tanggal 25 Agustus menjadi momen penting bagi berbagai negara di dunia. Di Indonesia, hari ini diperingati sebagai Hari Perumahan Nasional (Hapernas), sementara di negara lain, seperti Amerika Serikat, Korea Utara, dan Uruguay, tanggal tersebut juga memiliki makna khusus yang berkaitan dengan sejarah, budaya, atau kebijakan nasional.
Sejarah Hari Perumahan Nasional di Indonesia
Hari Perumahan Nasional di Indonesia bermula dari Kongres Perumahan Rakyat Sehat yang diselenggarakan pada 25–30 Agustus 1950 di Bandung. Kongres ini dibuka oleh Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, yang menegaskan bahwa perumahan adalah hak dasar setiap warga negara. Pada waktu itu, pemerintah dan masyarakat mulai menyadari pentingnya menyediakan hunian yang layak dan sehat bagi rakyat.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat kongres tersebut, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 46/KPTS/M/2008 menetapkan tanggal 25 Agustus sebagai Hari Perumahan Nasional. Momentum ini tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perumahan yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan.
Peringatan ini mengingatkan bahwa rumah yang layak merupakan bagian penting dari kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa. Dengan demikian, Hapernas menjadi ajang untuk memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kualitas hidup warga.
Hari Songun di Korea Utara
Di Korea Utara, tanggal 25 Agustus dirayakan sebagai Hari Songun. Hari ini memperingati dimulainya kebijakan militer sentris (Songun) yang diperkenalkan oleh Kim Jong-il pada tahun 1960. Pada tanggal tersebut, Kim Jong-il muda bersama ayahnya, Kim Il-sung, mengunjungi Markas Divisi Tank 105 di Pyongyang, yang dianggap sebagai simbol awal era Songun.
Kebijakan Songun menempatkan militer sebagai pusat utama dalam pengambilan keputusan politik dan kebijakan negara. Setelah kematian Kim Il-sung pada 1994, kebijakan ini secara resmi diperkenalkan dan diperkuat sebagai politik militer yang sangat menekankan kesatuan antara tentara, rakyat, dan partai.
Pada 2013, Kim Jong-un memberikan status resmi sebagai hari libur nasional kepada Hari Songun. Peringatan ini digunakan untuk memperkuat karisma dan posisi kepemimpinan Kim Jong-un di negara tersebut. Secara simbolis, Hari Songun mencerminkan peran sentral militer dalam pemerintahan Korea Utara.
Hari Kemerdekaan Uruguay
Uruguay merayakan Hari Kemerdekaannya setiap 25 Agustus. Tanggal ini diperingati sebagai hari kemenangan atas aneksasi Brasil pada tahun 1825. Wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai Provinsi Cisplatina dianeksasi oleh Brasil pada 1821, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Kerajaan Portugal, Brasil, dan Algarves.
Pada 25 Agustus 1825, sekelompok pejuang yang dikenal sebagai “Tiga Puluh Tiga Oriental” dipimpin oleh Juan Antonio Lavalleja, memproklamasikan kemerdekaan dari Brasil. Peristiwa ini memicu Perang 500 Hari antara pasukan Uruguay dan Brasil, yang berakhir pada 1828 dengan Perjanjian Montevideo yang difasilitasi oleh Inggris.
Konstitusi pertama Uruguay diadopsi pada 18 Juli 1830. Perayaan Hari Kemerdekaan Uruguay biasanya melibatkan parade militer, upacara resmi, pertunjukan budaya, dan pesta rakyat. Sejarah ini menunjukkan perjuangan panjang Uruguay untuk merdeka dari aneksasi dan membangun identitas nasional sendiri.
Hari Pakaian Bekas Nasional di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, tanggal 25 Agustus diperingati sebagai National Secondhand Wardrobe Day atau Hari Pakaian Bekas Nasional. Tujuan dari peringatan ini adalah untuk mengajak masyarakat lebih bijak dalam menggunakan pakaian dengan cara membeli, mendaur ulang, atau menyumbangkan pakaian bekas.
Banyak toko thrift dan komunitas amal memanfaatkan hari ini untuk mengadakan promo dan kampanye sosial guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup berkelanjutan dan kepedulian lingkungan. Sejarah Hari Pakaian Bekas bermula dari era Revolusi Industri abad ke-19 ketika produksi massal pakaian mulai terjadi.
Kultur membeli dan menjual pakaian bekas mulai berkembang sebagai alternatif untuk menghemat dan membantu mereka yang membutuhkan. Organisasi amal seperti Salvation Army dan Goodwill mulai membuka toko barang bekas untuk menggalang dana dan menyediakan kebutuhan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Pakaian bekas yang dulu memiliki stigma kini semakin diterima dan bahkan menjadi bagian dari tren fesyen. National Secondhand Wardrobe Day menjadi momen untuk mengkampanyekan penggunaan kembali pakaian demi lingkungan dan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
