Minggu, 20 September 2026Indonesia
Kompasia
news

IHSG Melompat Pasca Perdamaian AS-Iran, Investor Asing Mengungsi

Oleh Pimpinan Redaksi Β· Juni 16, 2026 Β· 4 menit baca Penulis Terverifikasi
AA1WJNiK.jpg
βœ“ Penulis Verified

Kondisi Pasar Keuangan Indonesia di Pertengahan Tahun 2026

Pasar keuangan di Tanah Air pada pertengahan tahun 2026 masih menghadapi tantangan dari berbagai aspek. Gejolak sentimen global dan lesunya kondisi domestik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan sebesar 4,12% pada perdagangan Senin (15/6/2026), dengan level terakhirnya berada di 6.254,96. Dalam satu minggu, kenaikan IHSG bahkan mencapai 17,09%. Namun, penurunan IHSG sejak awal tahun hingga saat ini mencapai 27,66%, jauh lebih dalam dibandingkan bursa negara berkembang lainnya.

Beberapa bursa negara berkembang lainnya juga menunjukkan tren positif pasca pengumuman rencana perjanjian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka Selat Hormuz. Hal ini memberi dorongan positif bagi sentimen pasar global. Di sisi lain, pelemahan rupiah yang sempat mencapai atas Rp 18.000 per dolar AS memicu Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga menjadi 5,5 pada pekan lalu. Pada akhir perdagangan Selasa (16/6/2026), rupiah masih melemah di level Rp 17.725 per dolar AS, turun 0,09% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Dua Kekuatan yang Menggerakkan Pasar Saham

Direktur PT Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, melihat bahwa pasar saham Indonesia sedang menghadapi dua kekuatan yang saling bertentangan. Di satu sisi, redanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan stabilnya harga minyak memberi dorongan positif. Di sisi lain, sentimen global yang mulai membaik membuat investor global kembali mencari aset berisiko di pasar negara berkembang.

Secara teori, kondisi ini seharusnya menguntungkan Indonesia sebagai bagian dari pasar emerging market. Namun, investor asing tidak hanya melihat kondisi global, tetapi juga melihat stabilitas rupiah, kredibilitas kebijakan pemerintah, independensi bank sentral, disiplin fiskal, serta kualitas tata kelola pasar modal.

Menurut Edwin, Indonesia saat ini menghadapi persoalan domestik yang relatif unik dibandingkan negara emerging market lainnya. Bahkan, 2026 menjadi salah satu periode net sell asing terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Jika lembaga pemeringkatan global S&P menurunkan rating Indonesia pada 18 Juni 2026 nanti, rupiah bisa melemah sementara, yield obligasi naik, IHSG terkoreksi jangka pendek, serta investor asing melakukan risk reduction.

Skenario ekstremnya jika status Indonesia turun menjadi non-investment grade, cost of fund pemerintah akan meningkat, yield SUN melonjak, CDS Indonesia naik, serta valuasi saham ditekan lebih rendah. Namun, Edwin menilai probabilitas Indonesia kehilangan status investment grade dalam waktu dekat masih relatif rendah.

Perkiraan Skenario IHSG di Akhir 2026

Edwin melihat ada tiga skenario target IHSG di akhir 2026. Pertama, jika terjadi downgrade dari lembaga pemeringkat global, rupiah melemah lagi, dan asing terus keluar, maka IHSG dilihat berpotensi berada di 5.200 – 6.000 pada akhir tahun 2026. Kedua, jika tidak ada downgrade, rupiah stabil, dan laba emiten tumbuh moderat, maka IHSG bisa ada di level 6.600 – 6.900. Terakhir, jika sentimen global membaik, arus asing kembali, dan isu MSCI mereda, maka IHSG bisa bergerak di level 7.000 – 7.500.

Dengan kata lain, risiko makro masih tinggi, tetapi valuasi sudah tidak mahal. Alhasil, Edwin melihat setidaknya ada tiga skenario target IHSG di akhir 2026. Saat ini, probabilitas terbesar masih berada pada skenario kedua.

Sentimen Positif dan Negatif di Pasar Saham

Edwin melihat, ada beberapa sentimen positif di pasar saham pada semester II 2026. Yaitu, potensi inflow asing ke Emerging Market, valuasi saham Indonesia semakin murah, potensi pemangkasan suku bunga global tahun depan, dan reformasi pasar modal. Jika pemerintah berhasil menjawab kritik MSCI dan FTSE terkait free float serta transparansi pasar maka persepsi investor asing bisa membaik.

Namun, sentimen negatif di semester II 2026 adalah risiko downgrade rating, pelemahan rupiah, kenaikan BI Rate, keputusan MSCI dan FTSE, serta perlambatan ekonomi. Di sisi lain, Teguh melihat, level wajar IHSG saat ini ada di level 7.000. Bahkan, di akhir tahun bisa naik lebih tinggi jika sentimennya mendukung, menjadi di kisaran 7.000-7.500.

Rekomendasi Investasi untuk Investor

Edwin menegaskan, kondisi sekarang bukan kondisi bagi investor saham untuk agresif penuh, tetapi juga bukan kondisi untuk panik. Strategi yang paling masuk akal adalah menghindari all in, menerapkan dollar cost averaging (DCA), memastikan fokus pada kualitas emiten, menghindari saham yang hanya mengandalkan narasi, memperbesar horizon investasi.

Untuk investor, Edwin menyarankan memilih saham dari sektor perbankan besar, komoditas dan logam mulia, nikel, telekomunikasi, dan konsumer defensif. Untuk emiten perbankan, saham yang bisa diperhatikan adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Untuk emiten komoditas ada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Emiten nikel ada PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

Untuk sektor telekomunikasi ada PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), serta sektor konsumer defensif adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Tak berbeda jauh, Teguh menyarankan investor untuk mencermati sektor perbankan, consumer goods, dan ritel.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia