Hari ini, 18 Agustus 2026, JLL Indonesia menyatakan Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan investasi pusat data atau data center di Asia Tenggara. Peningkatan kebutuhan infrastruktur digital, pertumbuhan kecerdasan buatan (AI), serta besarnya jumlah pengguna internet menjadi faktor yang memperkuat peluang tersebut.
Perkembangan ini menarik karena pusat data kini bukan sekadar infrastruktur penyimpanan informasi. Data center menjadi salah satu fondasi ekonomi digital yang mendukung layanan cloud, kecerdasan buatan, transaksi digital, aplikasi bisnis hingga berbagai layanan berbasis internet.
Mengapa Indonesia Berpeluang Menjadi Pusat Data Center Regional?
Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah menjelaskan bahwa arus pengembangan data center di kawasan telah mengalami pergeseran. Singapura sebelumnya menjadi salah satu pusat utama, kemudian sebagian pengembangan bergerak ke Malaysia dan Indonesia.
Indonesia mempunyai beberapa faktor yang mendukung perkembangan industri ini, termasuk jumlah penduduk yang besar dan tingginya kebutuhan terhadap layanan berbasis data.
Menurut keterangan JLL yang diberitakan ANTARA hari ini, penetrasi internet Indonesia berada di kisaran 81 persen. Besarnya populasi serta tingginya penggunaan internet dan media sosial oleh generasi muda ikut meningkatkan kebutuhan infrastruktur data.
Jakarta dan Batam Jadi Wilayah Strategis
Jakarta telah menjadi lokasi pengembangan data center sejak sekitar 2018β2019, terutama untuk mendukung layanan cloud. Namun, skalanya kini berkembang seiring meningkatnya kebutuhan data.
Batam juga mempunyai posisi menarik karena kedekatan geografisnya dengan Singapura dan perkembangan kawasan industrinya.
Pergeseran investasi pusat data dari negara tetangga berpotensi memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat infrastruktur digital regional.
Nilai Pasar Data Center Indonesia Diproyeksikan Meningkat
Prospek ekonominya juga cukup besar.
Data yang dikutip BKPM dari Mordor Intelligence menyebut nilai pasar data center Indonesia sekitar US$1,44 miliar pada 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi sekitar US$1,83 miliar pada 2026.
Nilainya diproyeksikan mencapai sekitar US$3,48 miliar pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 13,71 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pusat data bukan hanya fenomena teknologi, tetapi juga dapat berkembang menjadi sektor investasi bernilai besar.
AI Mendorong Kebutuhan Infrastruktur Data
Perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu faktor yang semakin meningkatkan kebutuhan komputasi dan penyimpanan data.
Semakin banyak perusahaan menggunakan AI, cloud computing dan analitik data, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang mampu menyediakan kapasitas komputasi secara stabil.
Indonesia sebelumnya juga membidik investasi dan transfer teknologi AI melalui penyelenggaraan ASOCIO Digital & AI Summit 2026. Forum tersebut dirancang mempertemukan pelaku teknologi dari berbagai ekonomi Asia-Oseania.
Artinya, pertumbuhan data center berpotensi berjalan beriringan dengan perkembangan ekosistem AI Indonesia.
Tantangan Besar: Energi dan Ekosistem Industri
Potensi besar tersebut bukan berarti tanpa tantangan.
Pengembangan pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan tingkat keandalan tinggi. Pemerintah menilai Indonesia mempunyai sejumlah modal, termasuk ketersediaan lahan serta sumber energi seperti panas bumi, tenaga surya dan tenaga air.
Selain itu, Indonesia perlu memastikan investasi data center menghasilkan efek ekonomi yang lebih luas.
JLL mengingatkan bahwa fasilitas data center tidak selalu menyerap tenaga kerja sebanyak industri manufaktur dengan luas lahan yang sebanding. Karena itu, pertumbuhannya perlu diikuti pengembangan industri pendukung dan ekosistem teknologi domestik.
Investasi Teknologi Tinggi Masih Memerlukan Ekosistem Kuat
Tantangan tersebut sejalan dengan penilaian CORE Indonesia yang juga disampaikan hari ini.
CORE menilai pengembangan hilirisasi menuju semikonduktor dan manufaktur berteknologi tinggi masih menghadapi persoalan kesiapan ekosistem. Investor membutuhkan rantai pasok, kepastian usaha, logistik yang efisien dan kepastian hukum.
Dengan demikian, persaingan menarik investasi teknologi tidak cukup hanya mengandalkan besarnya pasar Indonesia.
Infrastruktur, energi, regulasi dan kualitas ekosistem industri akan menjadi faktor penentu.
Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?
Jika investasi data center terus berkembang, manfaatnya dapat meluas ke berbagai sektor.
Pembangunan pusat data dapat meningkatkan permintaan terhadap infrastruktur energi, jaringan telekomunikasi, konstruksi, keamanan siber, perangkat teknologi dan berbagai layanan pendukung.
Dalam jangka panjang, keberadaan kapasitas data yang semakin besar juga dapat membantu perkembangan perusahaan teknologi domestik serta transformasi digital industri.
Namun, manfaat ekonominya akan lebih besar apabila investasi tersebut mampu membentuk rantai nilai di Indonesia, bukan sekadar menjadikan Indonesia sebagai lokasi fasilitas penyimpanan dan pemrosesan data.
Indonesia Punya Momentum Besar
Indonesia mempunyai kombinasi pasar digital besar, kebutuhan data yang terus meningkat dan posisi geografis strategis.
Proyeksi pertumbuhan nilai pasar data center hingga 2031 menunjukkan sektor ini berpotensi menjadi salah satu bagian penting dalam gelombang investasi digital berikutnya.
Tantangannya sekarang adalah memastikan pertumbuhan tersebut diikuti kesiapan energi, infrastruktur, regulasi dan industri pendukung.
Jika faktor-faktor tersebut dapat diperkuat, peluang Indonesia menjadi salah satu pusat data center regional bukan hanya memberikan keuntungan bagi industri teknologi, tetapi juga dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital Asia Tenggara.
Seluruh isi, data, opini, klaim, gambar, tautan, dan materi dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis, yaitu Rd.Rudi. Pengelola situs tidak selalu memiliki kendali editorial atas materi yang dikirimkan penulis. Status penulis: Terverifikasi.
π₯ Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi SekarangKata Kunci Terkait
Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.
Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama βKompasiaβ digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.
Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.
Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.
Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.