Kompasia.com – 31 Juli 2025
Oleh: Redaksi Kompasia | Jurnalis@kompasia.com
Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan kampanye besar-besaran pariwisata regeneratif, sebuah inisiatif baru yang bukan hanya berfokus pada keberlanjutan, tetapi juga bertujuan memulihkan ekosistem dan memberdayakan komunitas lokal. Kampanye ini menjadi sinyal kuat bahwa arah pariwisata Indonesia ke depan tak lagi hanya soal jumlah kunjungan, tetapi kualitas dampaknya bagi alam dan masyarakat.
🌱 Dari Sekadar Lestari Menuju Regeneratif
Dalam beberapa dekade terakhir, industri pariwisata global didorong untuk lebih ramah lingkungan melalui konsep pariwisata berkelanjutan. Namun, Indonesia kini melangkah lebih jauh dengan pendekatan regeneratif tourism.
Pariwisata regeneratif mengedepankan prinsip “leave it better than you found it”, yakni menjadikan pariwisata sebagai alat pemulih lingkungan, bukan hanya pelestari. Contoh nyatanya seperti:
- Menanam kembali mangrove di daerah wisata pesisir
- Mengembangkan homestay lokal dengan arsitektur berbasis bambu dan material alami
- Menyediakan pelatihan digital untuk warga lokal agar menjadi pemandu wisata bersertifikat
💻 Teknologi KelolaWisata.com Jadi Mitra Strategis
Mendukung langkah ini, platform digital KelolaWisata.com turut digandeng sebagai enabler teknologi dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis komunitas.
Melalui KelolaWisata.com, desa wisata dan pelaku pariwisata lokal dapat:
- Membuat profil digital destinasi yang menarik dan informatif
- Mengelola reservasi, pembayaran, dan data pengunjung secara real-time
- Menyediakan pelatihan daring dan sertifikasi berbasis kompetensi
- Memonitor dampak sosial-lingkungan berbasis data
Dengan teknologi ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam geliat industri pariwisata, tetapi pemain utama yang mendapatkan keuntungan langsung dan berkelanjutan.
“Kami ingin pariwisata Indonesia bukan hanya menghindari kerusakan, tapi menjadi solusi pemulihan. Bersama teknologi seperti KelolaWisata.com, kita bisa menjangkau desa-desa terpencil dan mengangkat potensi wisata yang selama ini terpinggirkan,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Kemenparekraf dalam pernyataan resminya.
🧭 Fokus pada Ekowisata, Eduwisata, dan Wisata Budaya
Program regeneratif ini akan difokuskan pada pengembangan ekowisata, eduwisata berbasis sekolah alam, serta wisata budaya yang memperkuat identitas lokal.
Di beberapa lokasi seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, dan Desa Penglipuran, telah dimulai pilot project restorasi lahan dan pelatihan warga. Wisatawan juga akan diarahkan untuk terlibat dalam kegiatan seperti:
- Penanaman pohon
- Lokakarya kerajinan tangan
- Pemetaan sumber air dan sejarah desa
🔁 Dampak Positif: Ekonomi Inklusif, Lingkungan Pulih
Dengan skema ini, pemerintah menargetkan:
- 100 desa wisata regeneratif pada akhir 2025
- 60% kontribusi pendapatan langsung ke komunitas lokal
- Penurunan jejak karbon 30% dari kegiatan wisata
Pariwisata tak lagi sekadar konsumsi, tetapi menjadi bagian dari gerakan sosial-ekologis. Teknologi, edukasi, dan budaya berpadu dalam narasi baru pariwisata Indonesia.
📲 Ingin Wisata Sekaligus Berdampak?
Kunjungi dan dukung destinasi lokal melalui KelolaWisata.com
Jelajahi Indonesia yang lebih hijau, lebih adil, dan lebih manusiawi.
📝 Editor: Tim Kompasia
📧 Kontak Redaksi: jurnalis@kompasia.com
🔗 Komunitas Publik Asia • Media Rakyat, Suara Nusantara
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
