Minggu, 13 September 2026Indonesia
Kompasia
Teknologi Parkir

Insiden Penertiban Parkir Liar Berujung Pengeroyokan Petugas Dishub

Oleh Pimpinan Redaksi · Juli 17, 2025 · 2 menit baca Penulis Terverifikasi
✓ Penulis Verified

Jakarta, 17 Juli 2025 — Aksi penertiban parkir liar kembali memanas. Dalam sebuah video yang viral di media sosial, sejumlah petugas Dinas Perhubungan (Dishub) dikeroyok oleh kelompok yang diduga sebagai tukang parkir liar saat melakukan penertiban di kawasan padat lalu lintas kota.

🎥 Rekaman Viral: “Dishub Diserbu di Tengah Jalan”

Video berdurasi 1 menit 40 detik itu menunjukkan suasana kacau saat petugas Dishub berseragam diserang oleh beberapa pria berbaju preman. Terlihat seorang petugas terjatuh dan dipukul, sementara warga sekitar mencoba melerai.

Lokasi kejadian disebut berada di Jalan Raya Otista, Jakarta Timur, tepatnya di depan deretan ruko yang selama ini dikenal sebagai zona rawan parkir liar.


⚠️ Latar Belakang: Masalah Klasik Parkir Liar

Penertiban ini merupakan bagian dari operasi terpadu untuk membersihkan zona merah parkir ilegal. Daerah tersebut kerap menjadi keluhan warga karena:

  • Tarik tarif parkir seenaknya (hingga Rp 20.000–Rp 50.000)
  • Mengganggu arus lalu lintas
  • Mengancam pengendara yang menolak membayar

Namun, penertiban ini rupanya memicu kemarahan kelompok yang merasa mata pencahariannya terancam.


🗣️ Pernyataan Resmi dari Dishub

“Kami menyesalkan tindakan kekerasan tersebut. Petugas kami menjalankan tugas berdasarkan Perda dan arahan penertiban. Kami sudah laporkan ke kepolisian,”
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta


🚔 Tindak Lanjut

Polsek setempat dikabarkan telah mengamankan tiga pelaku pengeroyokan dan tengah melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Korban dari pihak Dishub juga telah melapor dan menjalani visum.


📊 Potret Lebih Luas: Parkir Liar adalah “Bisnis Bayangan”

Menurut data Pemprov, potensi kebocoran dari parkir liar di DKI saja mencapai Rp 200–300 miliar per tahun. Padahal bila dikelola resmi dan terintegrasi sistem digital seperti yang dilakukan oleh PT MSM Parking di daerah lain, potensi PAD bisa meningkat tajam.


🔍 Solusi Jangka Panjang

  1. Digitalisasi Parkir: Menghapus transaksi tunai & percaloan
  2. Pemberdayaan Jukir Resmi: Dilatih dan disertifikasi
  3. Sosialisasi Publik: Edukasi soal tarif resmi & titik parkir legal
  4. Penegakan Hukum Tegas: Tindak oknum pengganggu ketertiban

🎯 Kesimpulan

Insiden ini mencerminkan resistensi tinggi terhadap upaya penertiban parkir liar. Namun, bila dibiarkan, praktik ilegal ini akan terus merugikan negara dan masyarakat. Perlu langkah kolektif: teknologi, hukum, dan edukasi, agar jalanan kota kembali tertib dan adil.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama “Kompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

💬 Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

☕ Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia