AA1USF75.jpg
Operasi Royal Navy di Selat Inggris untuk Mengawasi Kapal Rusia
Royal Navy atau Angkatan Laut Kerajaan Inggris kembali melakukan operasi pengawasan terhadap kapal-kapal Rusia yang melintasi Selat Inggris. Dalam operasi ini, kapal perang dan pesawat militer Inggris dikerahkan untuk memantau pergerakan kapal-kapal tersebut dalam rangka mengumpulkan informasi dan menjaga keamanan wilayah negara.
- operasi royal navy di selat inggris untuk mengawasi kapal rusia royal navy atau angkatan laut kerajaan inggris kembali melakukan operasi pengawasan terhadap kapal-kapal rusia yang melintasi selat inggris.
- dalam operasi ini, kapal perang dan pesawat militer inggris dikerahkan untuk memantau pergerakan kapal-kapal tersebut dalam rangka mengumpulkan informasi dan menjaga keamanan wilayah negara.
- operasi ini dilakukan selama dua hari dan berlangsung secara terkoordinasi dengan sekutu nato.
- kapal perang hms mersey dan hms severn yang berbasis di portsmouth serta helikopter wildcat dari skuadron udara angkatan laut 815 turut serta dalam operasi ini.
Daftar Isi
Operasi ini dilakukan selama dua hari dan berlangsung secara terkoordinasi dengan sekutu NATO. Kapal perang HMS Mersey dan HMS Severn yang berbasis di Portsmouth serta helikopter Wildcat dari Skuadron Udara Angkatan Laut 815 turut serta dalam operasi ini. Mereka bertugas untuk mencegat korvet Rusia Boikiy serta kapal tanker minyak MT General Skobelev yang menyertainya saat berlayar menuju Laut Utara.
HMS Mersey pertama kali mencegat kapal-kapal Rusia saat memasuki Selat Inggris, lalu mengambil alih tugas pengawasan dari sekutu NATO yang sebelumnya memantau pergerakan mereka di Teluk Biscay. Di dekat Isle of Wight, HMS Severn dan HMS Mersey bekerja sama dengan helikopter Wildcat untuk memantau kelompok kapal tersebut secara ketat menggunakan sensor canggih guna mengumpulkan informasi dan melaporkan pergerakan mereka.
Setelah itu, HMS Severn melanjutkan pengawasan saat kapal-kapal Rusia berlayar ke Laut Utara, sebelum menyerahkan tanggung jawab pemantauan kepada sekutu NATO ketika mereka melanjutkan perjalanan ke utara.
Pernyataan dari Menteri Pertahanan Inggris
Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Al Carns MP, menyampaikan bahwa operasi ini merupakan bentuk peringatan kepada Putin bahwa Angkatan Laut Inggris siap melacak, mencegat, dan mempertahankan wilayah negara. Ia juga memberikan apresiasi atas profesionalisme personel yang bekerja 24/7, 365 hari setahun untuk menjaga keamanan negara.
Letnan Komandan Dan Wardle, Komandan HMS Mersey, menambahkan bahwa operasi ini memberi kesempatan bagi awak kapal untuk menunjukkan kesiapan dan kemampuan mereka dalam menjaga kepentingan maritim Inggris Raya. Beroperasi dalam koordinasi erat dengan kapal saudara dan sekutu NATO lainnya memungkinkan mereka berbagi pengalaman dan praktik terbaik, yang semakin menegaskan kekuatan hubungan antarnegara.
Letnan Komandan Ross Gallagher, Pengamat Senior sekaligus Perwira Eksekutif 815 NAS, menekankan bahwa pengaktifan ini menunjukkan kesiapan dan profesionalisme tinggi yang menjadi ciri khas Skuadron Udara Angkatan Laut 815. Ia sangat bangga dengan para insinyur yang menjaga pesawat tetap berkinerja optimal serta awak pesawat yang memberikan pengawasan akurat, pelaporan cepat, dan kejelasan taktis.
Penanganan Armada Bayangan Rusia
Kapal-kapal Rusia tersebut kemudian kembali dari penempatan di kawasan Mediterania dan diawasi ketat sepanjang perjalanan oleh kapal perang NATO. Menteri Pertahanan Inggris John Healey menegaskan bahwa melacak dan mengganggu armada bayangan Rusia adalah prioritas pemerintah. Tujuan utamanya adalah untuk memblokir dana yang mendukung invasi Rusia ke Ukraina.
Ia menyatakan bahwa menghalangi, mengganggu, dan melemahkan armada bayangan Rusia merupakan prioritas pemerintah. Dukungan Inggris termasuk HMS Dagger yang memantau kapal tanker Grinch melalui Selat Gibraltar. Bersama sekutu, pemerintah meningkatkan respons terhadap kapal-kapal bayangan untuk memutus aliran dana yang membiayai invasi ilegal Putin ke Ukraina.
Kekhawatiran tentang Potensi Perang Dunia III
Di sisi lain, kekhawatiran akan potensi Perang Dunia III mulai muncul. Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban mengklaim para pemimpin Eropa diam-diam membentuk “dewan perang” untuk merencanakan kemenangan dalam potensi konflik global. Klaim ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik.
Orban menyatakan bahwa Uni Eropa tidak lagi fokus pada diplomasi, melainkan beralih ke persiapan konfrontasi militer berskala besar. Ia menilai elit Eropa telah menentukan pilihan, yakni mempersiapkan konfrontasi langsung dan dahsyat dengan Rusia.
Namun, para pejabat Uni Eropa menolak label “dewan perang” dan menegaskan bahwa pertemuan yang dimaksud sepenuhnya berfokus pada keamanan defensif dan dukungan kemanusiaan. Mereka menilai bahwa penggambaran Uni Eropa sebagai entitas yang gemar berperang hanya menguntungkan narasi Rusia dan memperkuat basis pendukung Orban di dalam negeri.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Share this content:
