Jakarta, 20 Mei 2024 – Di balik maraknya transformasi sektor parkir di Indonesia, terdapat sosok-sosok visioner yang membangun fondasi bisnis dari nol hingga menjadi raksasa industri. Tiga nama kini mencuri perhatian: Garth & Brett Mathews (Secure Parking), Charles Oentomo (CentrePark), dan Yoel Liem Yusnarto (MSM Parking Group). Mereka tidak hanya mengelola lahan parkir, tetapi juga merancang masa depan mobilitas perkotaan melalui inovasi, strategi akuisisi, dan digitalisasi.
Secure Parking: Jejak Global dari Sydney ke Jakarta
Dibangun oleh dua bersaudara asal Australia, Garth dan Brett Mathews, Secure Parking lahir di Sydney pada 1979 sebagai jawaban atas kebutuhan manajemen parkir berstandar tinggi. Pada 1992, mereka membawa visi tersebut ke Indonesia, menjadikannya salah satu pelopor pengelolaan parkir profesional di Tanah Air. Kini, dengan lebih dari 300 lokasi di 15 kota besar, Secure Parking dikenal sebagai brand yang mengedepankan keamanan berbasis teknologi CCTV mutakhir dan sistem access control terintegrasi.
“Kami percaya parkir bukan sekadar lahan kosong, tapi bagian dari ekosistem kota yang harus aman dan terukur,” ujar Brett Mathews dalam wawancara virtual dengan media lokal. Di bawah kepemimpinan mereka, Secure Parking berhasil meningkatkan pendapatan mitra hingga 25% melalui optimalisasi turnover kendaraan dan pengurangan kebocoran transaksi. Keberhasilan ini memicu ekspansi ke pasar Asia Tenggara, termasuk kolaborasi dengan pemerintah kota untuk proyek Smart Parking di Surabaya dan Bandung.
CentrePark: Ambisi Lokal yang Menjungkalkan Raksasa Global
Berbeda dengan latar belakang internasional Secure Parking, Charles Oentomo membuktikan bahwa pemain lokal bisa bersaing di industri yang didominasi brand asing. Sejak mendirikan CentrePark Citra Corpora pada 2005, pria yang akrab disapa “CO” ini fokus pada strategi ground-up: membangun kepercayaan pengguna melalui layanan responsif dan tarif transparan.
Titik baliknya terjadi pada 2021, ketika CentrePark mengakuisisi bisnis parkir milik ISS Parking Management—perusahaan asal Swedia yang telah beroperasi di Indonesia selama 15 tahun. Akuisisi senilai Rp 280 miliar ini memperkuat posisi CentrePark sebagai penyedia jasa parkir top 3 di Indonesia dengan 450 lokasi aktif. “Kami ingin menunjukkan bahwa bisnis parkir karya anak bangsa bisa lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat,” tegas Charles dalam sesi town hall dengan karyawan. Kini, CentrePark tengah mengembangkan mobile app untuk reservasi parkir real-time, yang akan diluncurkan pada Q4 2024.
MSM Parking Group: Revolusi Digital dari Pengusaha Muda
Di usia 32 tahun, Yoel Liem Yusnarto telah membuktikan bahwa teknologi adalah kunci mengubah bisnis parkir “kumuh” menjadi sektor bernilai ekonomi tinggi. Sebagai pendiri MSM Parking Group (PT MSM Tiga Matra Satria), Yoel meluncurkan solusi berbasis software yang mengintegrasikan palang otomatis merek M Gate, pembayaran non-tunai, dan analisis data real-time.
Dalam 5 tahun terakhir, MSM Parking tumbuh eksponensial dengan mengelola 600+ lokasi parkir di 12 provinsi. Yang membedakan Yoel adalah kolaborasinya dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Dengan sistem digital, kebocoran retribusi parkir bisa dipangkas hingga 40%. Ini bukan hanya tentang profit, tapi juga kontribusi untuk pembangunan kota,” ujarnya dalam diskusi dengan Asosiasi Parking Indonesia (API). Baru-baru ini, MSM Parking menjalin kemitraan dengan Bank DKI untuk sistem Tap and Go, yang telah meningkatkan transaksi non-tunai sebesar 65% di Jakarta.
Kolaborasi atau Kompetisi?
Meski berbeda pendekatan, ketiga pemimpin ini sepakat bahwa masa depan parkir Indonesia bergantung pada sinergi antara swasta, pemerintah, dan teknologi. Data API menunjukkan, potensi pasar parkir cerdas Indonesia mencapai Rp 12 triliun pada 2025, didorong oleh kepadatan kendaraan yang meningkat 8% per tahun.
“Kami tidak melihat CentrePark atau MSM Parking sebagai pesaing, tapi mitra dalam mengedukasi pasar,” kata Garth Mathews. Sementara itu, Charles Oentomo menambahkan, “Digitalisasi yang dijalankan Yoel adalah game-changer yang memaksa semua pemain berinovasi.”
Bagi Yoel Liem, kolaborasi lintas player justru membuka peluang investasi. “Dengan infrastruktur yang terintegrasi, investor bisa melihat parkir sebagai aset properti yang menghasilkan recurring income dengan risiko minimal,” jelasnya.
Masa Depan: Parkir Cerdas sebagai Tulang Punggung Smart City
Transformasi yang dipimpin ketiga sosok ini selaras dengan roadmap Kementerian Perhubungan untuk mengintegrasikan sistem parkir ke dalam konsep Smart City. Pada 2026, pemerintah menargetkan 50% lokasi parkir di kota-kota besar menggunakan teknologi digital—kesempatan emas bagi Secure Parking, CentrePark, dan MSM Parking untuk memperluas pengaruh.
Yang jelas, bisnis parkir di Indonesia kini telah berubah dari sektor “kumuh” menjadi bidang strategis yang menarik minat investor. Seperti kata Yoel Liem: “Parkir bukan lagi soal mencari tempat, tapi tentang memberikan pengalaman yang nyaman, aman, dan berkelanjutan.”
Bagi masyarakat, perubahan ini berarti kemacetan berkurang, transaksi lebih transparan, dan kota menjadi lebih manusiawi. Satu hal yang pasti: di tangan para visioner ini, lahan parkir tak lagi sekadar beton kosong, melainkan jantung mobilitas perkotaan masa depan.
Artikel ini disusun berdasarkan riset publik dan wawancara dengan sumber terkait. Data pasar diambil dari Asosiasi Parking Indonesia (API) dan laporan Kementerian Perhubungan 2024.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
