Ringkasan Berita:Β
- Kamar Dagang Indonesia Swiss Chamber mendorong kerja sama dengan Swiss Smart Factory guna mempercepat perubahan industri Indonesia menuju Industry 5.0.
- Kolaborasi diarahkan pada pengembangan teknologi produksi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar siap menghadapi industri yang berbasis kecerdasan buatan.
- Swiss dianggap berhasil menjadi pusat inovasi karena kerja sama antara pemerintah, industri, dan universitas yang bisa menjadi contoh bagi Indonesia.
BIEL, KPA NEWS –β Sektor manufaktur Indonesia dapat menjadikan Swiss Smart Factory sebagai mitra dan contoh dalam pengembangan industri 5.0. Selain memperkuat teknologi manufaktur, kerja sama dengan Swiss Smart Factory (SSF) diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan kebutuhan industri 5.0.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Swiss Chamber, Francis Wanandi, mengatakan bahwa saat ini sudah ada sekitar 10 hingga 12 negara yang bekerja sama dengan Swiss Smart Factory dalam pengembangan teknologi dan industri masa depan.
Kadin Indonesia Swiss Chamber bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Swiss dan Liechtenstein di Bern Swiss berupaya membuka jalur kerja sama antara Indonesia dengan ekosistem inovasi yang dikembangkan SSF.
SSF adalah pusat pengembangan inovasi dan ruang kolaborasi di Swiss yang mengkhususkan diri pada teknologi pabrik modern (Industri 4.0 dan 5.0) berada di kota Biel/Bienne, Swiss.
“Kami berharap Indonesia juga bisa ikut serta dalam ekosistem ini dan memanfaatkan kesempatan kerja sama yang ada,” katanya saat hadir dalam The International Smart Factory Summit 2026 di Biel, Swiss, Kamis (25/6/2026).
Dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan bilateral antara Republik Indonesia dan Swiss, KPA NEWS – bersama tim jurnalis KG Media berkesempatan menghadiri acara tahunan yang diselenggarakan di kota Biel/Bienne, Swiss.
Biel atau Bienne merupakan kota yang dikenal sebagai pusat industri dan penghasil jam tangan ternama di Swiss, seperti Omega dan Swatch.
Kota industri berada di tepian Danau Biel dan kaki Pegunungan Jura. KPA NEWS – membutuhkan sekitar 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan ke arah utara dari ibu kota Swiss, Bern.
Acara tahunan yang diadakan di Swiss Innovation Park Biel/Bienne mengumpulkan pelaku industri, ilmuwan, inovator, dan ahli teknologi dari berbagai negara untuk membahas perkembangan manufaktur cerdas, kecerdasan buatan, serta konsep Industry 5.0.
Selanjutnya, Francis berpendapat bahwa Indonesia perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan dasar dan secara bertahap beralih ke industri yang berbasis teknologi canggih yang memerlukan sumber daya manusia dengan kemampuan lebih tinggi.
“Kami berharap suatu saat nanti Indonesia tidak hanya mengandalkan tenaga kerja dengan keterampilan rendah, tetapi juga mampu masuk ke sektor industri dan pabrik yang berbasis teknologi yang memerlukan sumber daya manusia dengan kemampuan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Berdasarkan pendapat Francis, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting agar Indonesia mampu memainkan peran yang lebih besar dalam rantai pasok industri global serta memanfaatkan kesempatan yang muncul dari perkembangan Industri 5.0 dan teknologi kecerdasan buatan.
Keberhasilan Swiss sebagai salah satu pusat inovasi teknologi dan manufaktur tinggi di dunia tidak lepas dari kuatnya kerja sama antara pemerintah, sektor industri, dan institusi pendidikan tinggi.
KPA NEWS – bersama dengan tim jurnalis KG Media, memiliki kesempatan untuk menghadiri acara tahunan yang diselenggarakan di kota penghasil jam Omega dan Swatch.
Biel/Bienne merupakan kota industri dan pusat penghasil jam tangan terkenal di Swiss yang berada di tepian Danau Biel serta kaki Pegunungan Jura, sekitar 1,5 jam perjalanan ke arah timur dari ibu kota negara, Bern.
Menurut Francis, kehadiran Swiss Smart Factory mencerminkan komitmen kuat Swiss untuk menjadi aktor utama dalam pengembangan teknologi industri, bukan hanya sebagai pengguna teknologi yang dibuat oleh negara lain.
“Smart Factory ini menunjukkan komitmen Swiss untuk menjadi pemimpin, menjadi aktor utama, bukan hanya sebagai pengguna teknologi,” kata Francis.
Ia menganggap keberhasilan tersebut didukung oleh keterlibatan yang kuat antara dunia bisnis, pemerintah, dan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga komponen ini memiliki visi yang sama dalam menjadikan Swiss sebagai pemimpin global dalam inovasi dan teknologi.
“Jika saya melihat di sini, intinya adalah kerja sama. Kerja sama antar sektor industri, kerja sama antara pemerintah dan industri, termasuk kerja sama dengan universitas. Tiga komponen ini memungkinkan mereka menjadi pemain bahkan pemimpin di tingkat global,” katanya.
Francis menegaskan, dasar utama kemajuan Swiss adalah pola pikir atau mentalitas untuk menjadi pemimpin global. Visi besar ini selanjutnya diwujudkan melalui investasi yang dilakukan secara konsisten oleh pemerintah, sektor industri, serta komunitas akademik.
“Mereka memutuskan bahwa harus menjadi pemimpin global. Oleh karena itu, pendanaan yang dilakukan pemerintah, industri, dan akademisi memiliki pandangan yang sama. Tanpa pandangan yang serupa, mereka pasti akan ketinggalan,” ujarnya.
Menurutnya, kemajuan teknologi global saat ini tidak mungkin diraih oleh satu pihak saja. Oleh karena itu, kerja sama antar sektor menjadi kunci utama agar sebuah negara dapat bersaing dalam tengah percepatan transformasi digital dan industri yang berbasis kecerdasan buatan.
“Tidak ada lagi negara di dunia yang mampu berkembang tanpa adanya kerja sama antara satu sama lain,” tegasnya.(*)
π₯ Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang