Seblak, Makanan Khas Sunda yang Viral di Thailand
Seblak, makanan khas Sunda yang terkenal dengan cita rasa pedas dan segar, kini sedang menjadi perhatian besar di negara tetangga, yaitu Thailand. Video-video yang menampilkan warga Thailand mencoba dan menyukai Seblak beredar luas di media sosial. Tidak hanya food vlogger yang mereview makanan ini, namun juga masyarakat umum yang penasaran. Banyak dari mereka mencoba membuat Seblak sendiri dengan resep dan bahan yang mereka miliki, sementara sebagian lainnya memesan produk Seblak dari Indonesia.
Respon positif yang diterima sangat luar biasa. Hampir 99 persen dari mereka menyukai rasa Seblak. Meskipun ada beberapa yang lebih memilih Seblak impor langsung dari Indonesia daripada mencoba resep dari internet. Hal ini disebabkan oleh perbedaan rasa bumbu yang bisa saja sedikit berbeda. Meskipun sama-sama menggunakan cabai, bawang, atau kencur, bahan-bahan lokal Thailand mungkin memiliki karakteristik rasa yang berbeda dibandingkan yang ditanam di Indonesia.
Seblak: Makanan yang Menjadi Buah Bibir di Thailand
Seblak tidak hanya menjadi viral karena keunikan rasanya, tetapi juga karena daya tariknya sebagai makanan yang tampak biasa saja. Fenomena ini menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana pun bisa menjadi buah bibir di suatu negara. Sebelumnya, banyak konten tentang Indonesia yang viral di dunia internasional, mulai dari lagu, tarian, hingga kejadian lucu atau aneh yang disukai netizen.
Meski Seblak bukan makanan bergengsi bagi sebagian orang Indonesia, namun bagi warga Thailand, Seblak memberikan pengalaman baru yang menarik. Seblak adalah kreasi kuliner dari tanah Sunda, meskipun pengaruh budaya kuliner Sunda sangat jelas terasa dalam bahan dan cara pengolahan.
Asal Usul dan Cita Rasa Seblak
Kata “Seblak” berasal dari kata “segak” atau “nyegak” dalam bahasa Sunda yang artinya “menyengat”. Seblak pertama kali muncul di Jawa Barat bagian Selatan seperti Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur Selatan. Dari sana, Seblak berkembang dan dimodifikasi di berbagai daerah seperti Bandung, Banten, Jakarta, dan kota-kota lain di Jawa serta Nusantara.
Salah satu bahan utama yang menjadi ciri khas Seblak adalah kencur. Penggunaan kencur sangat penting dalam membuat bumbu Seblak asli. Kencur memiliki banyak manfaat kesehatan, termasuk mengandung minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, serat, protein, mineral, dan vitamin yang baik untuk tubuh.
Varian dan Inovasi Seblak
Hampir semua jenis makanan bisa dijadikan toping Seblak. Mulai dari protein seperti ayam, sapi, telur, sampai produk olahan seperti baso dan sosis. Sayuran, mie, pasta, dan kerupuk juga sering digunakan sebagai pelengkap. Pelaku usaha kuliner terus melakukan inovasi, seperti membuat Seblak kering, kemasan siap saji, atau perkerupukan dengan bumbu tabur instan.
Pengaruh makanan dari luar juga mudah diadopsi sebagai toping Seblak. Contohnya jamur enoki, Odeng, atau Tteok yang populer di Jepang dan Korea. Hal ini menunjukkan bahwa Seblak adalah makanan yang fleksibel dan bisa disesuaikan dengan selera berbagai kalangan.
Potensi Seblak di Pasar Thailand
Dari segi karakteristik lidah, orang Thailand akrab dengan makanan pedas dan asam, sehingga Seblak cocok untuk mereka. Mereka juga menyukai campuran bahan segar, baik sayuran maupun hasil laut. Generasi muda Thailand (Gen Z) lebih terbuka terhadap tren luar negeri, tetapi tetap menjaga citra rasa tradisional mereka yang pedas, asam, dan gurih.
Dengan kondisi ini, Seblak memiliki potensi besar untuk berkembang di pasar Thailand. Namun, perlu adanya strategi yang tepat dari pihak-pihak terkait, seperti pemerintah dan dunia usaha. Langkah-langkah seperti mengadakan bazaar produk Indonesia, mengundang influencer, dan bekerja sama dengan mitra usaha lokal bisa membantu memperluas pasar Seblak di Thailand.
Perkembangan Ekspor Indonesia ke Thailand
Meski Seblak menunjukkan potensi besar, ekspor Indonesia ke Thailand masih belum masuk sepuluh besar. Produk-produk seperti bahan bakar mineral, kendaraan, mesin, dan ikan mendominasi daftar ekspor. Namun, Indonesia memiliki keunggulan geografis yang mirip dengan Thailand, seperti iklim tropis dan hutan tropis, yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perdagangan.
Sayangnya, Indonesia kecolongan dalam bidang teknologi pertanian. Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya belajar dari Indonesia pada masa lalu, namun kini mereka berhasil mengembangkan varian produk pertanian yang lebih unggul. Hal ini menunjukkan pentingnya kebijakan yang pro petani dan strategis untuk mengembangkan sektor pertanian.
Kesimpulan
Seblak mungkin hanya riak kecil, tetapi jika semua pihak melihatnya sebagai momentum, maka peluang untuk membangun citra baru bagi produk Indonesia sangat besar. Dengan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Indonesia bisa kembali menjadi produsen pangan dan kuliner yang berjaya di pasar global. Seblak juga mengajarkan bahwa sesuatu yang berasal dari tradisi memiliki nilai yang sangat berharga. Jika tidak dihargai, nanti akan ada orang lain yang mengambilnya.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
