Filosofi dan Sejarah Gedung Nusantara DPR RI
Gedung Nusantara, yang kini menjadi bagian dari kompleks DPR RI, memiliki makna filosofis yang mendalam. Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta, Yiyok T. Herlambang, menjelaskan bahwa gedung ini melambangkan kepak sayap burung Garuda yang menaungi Nusantara. Hal ini mencerminkan semangat persatuan dan kekuatan bangsa Indonesia.
Gedung Nusantara sebelumnya dikenal sebagai Gedung Conefo, sebuah proyek yang diinisiasi oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno. Tujuan awal pembangunan gedung ini adalah untuk menjadi sekretariat dari Conference of the Emerging Forces (Conefo), sebuah organisasi yang terdiri dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Conefo dibentuk sebagai alternatif bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada masa itu.
Gedung ini dirancang oleh arsitek ternama, Soejoedi Wirjoatmodjo, dan disahkan oleh Presiden Soekarno pada 22 Februari 1965. Dalam perjalanan sejarahnya, gedung ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting di Indonesia, termasuk akhir masa pemerintahan Orde Baru dan lahirnya era reformasi pada Mei 1998. Saat itu, ribuan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa dan menduduki atap gedung berwarna hijau tersebut, menuntut mundurnya Presiden Soeharto.
Selain sejarahnya, Gedung Nusantara juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Menurut Yiyok, bentuk atap gedung yang menyerupai kura-kura sebenarnya memiliki makna filosofis lain, yaitu kepak sayap burung Garuda. Hal ini menunjukkan bahwa desain bangunan tidak hanya estetis, tetapi juga bermakna dalam konteks budaya dan simbolisme nasional.
Fungsi dan Keunikan Gedung Nusantara
Gedung Nusantara bukan hanya tempat representasi lembaga legislatif, tetapi juga menjadi tempat wisata studi tour dan penelitian. Masyarakat umum dapat mengunjungi gedung ini untuk mempelajari sejarah, arsitektur, dan peran pentingnya dalam kehidupan politik Indonesia.
Sekretaris Jenderal DPR RI, Indra Iskandar, menambahkan bahwa gedung Conefo, yang digagas oleh Soekarno, merupakan simbol kekuatan Indonesia di mata dunia. Ia menilai bahwa desain arsitektur Gedung Nusantara sangat unik dan megah, dengan konstruksi yang rumit dan teknik yang melampaui zamannya.
Dari segi arsitektur, banyak ahli menyebut bahwa teknik yang digunakan dalam pembangunan gedung ini sangat luar biasa. Bahkan hingga saat ini, beberapa arsitek masih mengagumi desain dan struktur bangunan yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Status Cagar Budaya
Ketetapan Gedung Nusantara DPR RI sebagai cagar budaya tingkat provinsi masih menunggu tanda tangan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Proses ini menjadi langkah awal untuk menjadikan gedung ini sebagai cagar budaya nasional.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, Ar. Endy Subijono, menjelaskan bahwa dari semua gedung di Kompleks Parlemen RI, hanya Gedung Nusantara yang diajukan sebagai cagar budaya nasional. Sementara itu, lingkungan dan bangunan lain belum diusulkan.
Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, penilaian dan penetapan cagar budaya dilakukan secara berjenjang. Awalnya, penilaian dilakukan di tingkat provinsi, kemudian naik ke tingkat nasional. Untuk di tingkat Jakarta, kajiannya sudah selesai dan memenuhi syarat. Tinggal menunggu tanda tangan gubernur sebagai legalitas penempatan di level provinsi.
Di sisi lain, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB Nasional) juga sedang mengkaji untuk menetapkan Gedung Nusantara sebagai cagar budaya nasional. Langkah ini dilakukan agar proses penetapan bisa lebih cepat.
Endy menilai bahwa Gedung Nusantara layak menjadi cagar budaya nasional karena memenuhi kriteria yang ditetapkan. Di antaranya, bangunan ini memiliki usia yang cukup tua, mewakili masa gaya tertentu, serta memiliki arti penting dalam sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Selain itu, Gedung Nusantara juga memiliki nilai budaya yang kuat, mencerminkan kekhasan kebudayaan Indonesia. Desainnya yang unik dan langka, serta narasi sejarah yang kaya, membuat bangunan ini layak diakui sebagai cagar budaya nasional.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
