Daripada Prabowo, Pidato Jokowi Lebih Mampu Menjaga Perasaan Rakyat Meski Prestasi Biasa
Kritik terhadap Gaya Komunikasi Prabowo dan Peran Jokowi dalam Membangun Sentimen Rakyat
Sejumlah pengamat politik menyampaikan kritik terhadap gaya komunikasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, terutama dalam mengelola sentimen masyarakat. Salah satu tokoh yang menyoroti hal ini adalah Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting. Menurutnya, kegagalan pemerintah dalam menjaga perasaan rakyat menjadi salah satu faktor utama dari aksi demo yang terjadi di Jakarta dan beberapa daerah lain.
- kritik terhadap gaya komunikasi prabowo dan peran jokowi dalam membangun sentimen rakyat sejumlah pengamat politik menyampaikan kritik terhadap gaya komunikasi presiden joko widodo (jokowi) dan prabowo subianto, terutama…
- salah satu tokoh yang menyoroti hal ini adalah pangi syarwi chaniago, direktur eksekutif voxpol center research and consulting.
- menurutnya, kegagalan pemerintah dalam menjaga perasaan rakyat menjadi salah satu faktor utama dari aksi demo yang terjadi di jakarta dan beberapa daerah lain.
- pangi menilai bahwa penyebab utama keributan tersebut bukan hanya terkait dengan kebijakan pemerintah seperti kenaikan harga pertamax atau program makan bergizi gratis (mbg), tetapi lebih pada kemampuan pemimpin dalam me…
Daftar Isi
Pangi menilai bahwa penyebab utama keributan tersebut bukan hanya terkait dengan kebijakan pemerintah seperti kenaikan harga Pertamax atau program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi lebih pada kemampuan pemimpin dalam memahami dan meredam emosi masyarakat. Dalam pandangan Pangi, Jokowi memiliki keunggulan dibanding Prabowo dalam hal ini.
Kemampuan Jokowi dalam Mengelola Perasaan Rakyat
Meskipun prestasi Prabowo sebagai presiden bisa jadi lebih baik daripada Jokowi, Pangi menekankan bahwa esensi seorang pemimpin di Indonesia sebenarnya sangat sederhana: kemampuan untuk memahami dan menjaga hati rakyat. Ia menilai bahwa inilah yang menjadi kekuatan utama Jokowi selama menjabat.
“Jokowi itu kan ilmunya menjaga perasaan rakyat. Menjaga pencitraannya. Kerja Jokowi apa? Biasa aja, infrastruktur yang dibangun juga begitu-begitu aja,” ujar Pangi saat diwawancara.
Menurutnya, prestasi sebuah pemerintahan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga sejauh mana negara mampu menciptakan ketenangan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. “Prestasi negara itu adalah sejauh mana mereka punya kemampuan untuk menggembirakan hati rakyat. Menggembirakan hati rakyat itu bagian dari prestasi.”
Kritik terhadap Gaya Komunikasi Prabowo
Di sisi lain, Pangi mengkritik gaya komunikasi Prabowo yang dinilai kaku dan tidak fleksibel. Menurutnya, Prabowo terkesan enggan memperbaiki cara berkomunikasinya dengan publik, sehingga memicu resistensi di kalangan masyarakat.
“Kemudian presiden yang selalu ngeyel, presiden yang nggak mau memperbaiki cara berkomunikasinya dengan rakyatnya, yang tetap ngotot dengan cara-cara. Diingatkan kalau bahasa orangnya keras batu, itu yang terlalu dipaksakan dengan keyakinan mereka,” ujar Pangi.
Ia mencontohkan pidato Prabowo dalam acara Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandar Lampung. Dalam pidato tersebut, Prabowo menyinggung para pihak yang nyinyir dengan mimik wajah yang menunjukkan ketidakpuasan. Pangi menilai bahwa pidato tersebut terlalu liar dan tidak terarah.
Pidato Prabowo yang Dinilai Tidak Terkendali
Dalam pidato itu, Prabowo mengingatkan tentang pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu. Ia menekankan bahwa Indonesia harus fokus pada tujuan besar dan tidak perlu mendengarkan komentar negatif dari pihak luar.
“Yang nyinyir-nyinyir, ingat ya, ajaran dari guru-guru kita, biar anjing menggonggong, kafilah tetap terus,” ujar Prabowo.
Ia juga menekankan pentingnya semangat pengusaha yang militan dan tidak mudah menyerah. “Jatuh, bangkit lagi, jatuh bangkit lagi, jatuh lagi bangkit lagi. Dan selalu saya titip, kita harus bersatu. Gotong royong.”
Namun, Pangi menilai bahwa gaya pidato Prabowo terkesan kurang efektif dan tidak mampu meredam ketegangan di masyarakat. Ia menilai bahwa tidak ada tim khusus yang membantu Prabowo dalam menyusun pidato yang lebih terarah dan bermakna.
Kesimpulan
Dari kritik yang disampaikan oleh Pangi, terlihat bahwa kemampuan seorang pemimpin dalam menjaga perasaan rakyat menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sosial. Meskipun Jokowi mungkin tidak memiliki prestasi yang luar biasa dalam pembangunan fisik, ia dinilai lebih unggul dalam mengelola sentimen masyarakat. Sementara itu, Prabowo masih dianggap perlu memperbaiki cara berkomunikasinya agar lebih efektif dan mampu meredam resistensi di tengah masyarakat.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Prakiraan Cuaca 11 Kecamatan di Bengkulu Selatan Jumat 22 Agustus 2025,Cerah Berawan-Udara Kabur
- Mahfud MD Puji Presiden Prabowo, saat Bahas OTT Wamenaker Immanuel Ebenezer
- AC Milan: Selamat Datang,Victor Boniface
Share this content:













