Jumat, 14 Agustus 2026Indonesia
KPA News
news

IHSG Masih Rentan Melemah di Tengah Tekanan Moody’s dan Geopolitik Global

Oleh Pimpinan Redaksi ยท Februari 9, 2026 ยท 2 menit baca Penulis Terverifikasi
AA1VsK3W.jpg

Perkembangan IHSG pada Pekan Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah terbatas selama perdagangan pekan ini, yaitu dari Senin hingga Jumat, 9โ€“13 Februari 2026. Sikap hati-hati para investor masih mendominasi pasar. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa tingginya rasa waspada dari sentimen global dan domestik menjadi salah satu penyebabnya. Dinamika geopolitik, arah kebijakan moneter global, serta dampak penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moodyโ€™s turut memengaruhi situasi pasar.

Ia memproyeksikan bahwa IHSG akan bergerak di antara level support 7.716 dan resistance 8.207. Tekanan pasar tersebut terlihat dari performa IHSG pada pekan lalu yang menunjukkan penurunan signifikan.

Moodyโ€™s menyoroti beberapa risiko fiskal, seperti perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar. Selain itu, risiko politik dan volatilitas pasar keuangan juga dapat memengaruhi stabilitas makro jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang lebih konsisten.

Fokus pada Data Ekonomi dan Sentimen Global

Investor saat ini juga memperhatikan rilis data penjualan ritel Desember 2025 serta data penjualan mobil Januari 2026. Data ini digunakan untuk mengukur ketahanan konsumsi masyarakat di awal tahun.

Selama sepekan terakhir, IHSG terkoreksi cukup dalam sebesar 4,73 persen ke level 7.935. Arus dana asing keluar (outflow) di pasar reguler mencapai Rp 1,2 triliun. Pelemahan ini juga dipicu oleh ancaman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyatakan potensi Indonesia turun ke kategori frontier market jika tidak mampu memenuhi permintaan terkait transparansi pemegang saham.

Di tingkat global, perhatian investor tertuju pada perkembangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi Oman di Muscat berjalan sangat baik dan membuka peluang pertemuan lanjutan pada awal pekan ini. Iran juga menyatakan perundingan awal berlangsung positif guna meredam ketegangan dan menghindari konflik militer.

Meski demikian, risiko geopolitik dinilai masih tinggi seiring sanksi baru AS terhadap ekspor minyak Iran serta meningkatnya tensi di kawasan Teluk Persia. IPOT melihat peluang eskalasi konflik terbatas di wilayah maritim masih terbuka meskipun jalur diplomasi terus berjalan.

Perkembangan Ekonomi Dalam Negeri

Di sisi lain, sentimen positif datang dari data pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 yang tercatat solid sebesar 5,11 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat, ekspansi sektor jasa, serta lonjakan belanja modal pemerintah.

Data ini menjadi penopang utama agar koreksi pasar tetap terbatas. Memasuki pekan ini, investor akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat dan China. Selain itu, data penjualan ritel dan penjualan mobil domestik juga akan menjadi penentu arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek di tengah tingginya volatilitas pasar global.

936SHARES3.9kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

KOMPASIA.COM

Kirim Berita dan Press Release Anda

Kirim berita, press release, artikel promosi, opini, kegiatan perusahaan, komunitas, atau informasi publik lainnya kepada Redaksi Kompasia.

Materi yang dikirim akan melalui proses pemeriksaan dan penyuntingan redaksi sebelum diterbitkan.

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen memenuhi standar Dewan Pers untuk menyajikan informasi yang akurat, tajam, dan berimbang.