AA1UsPz0.jpg
Sejarah dan Pengalaman Seorang Sniper Legendaris di Indonesia
Istilah “sniper” atau penembak jitu sudah dikenal sejak abad ke-18. Kata ini berasal dari kata “snipe”, yaitu sejenis burung yang sangat sulit untuk didekati atau ditembak. Di Indonesia, ada sosok yang terkenal sebagai salah satu sniper terbaik dunia, yaitu Tatang Koswara. Ia termasuk dalam daftar 14 besar “Sniper’s Roll of Honour” yang tercantum dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons.
Tatang Koswara memiliki latar belakang yang unik. Kehidupannya di kampung membuatnya lebih mudah menghadapi pelatihan militer, baik secara fisik maupun teknis seperti berenang dan menembak. Pada tahun 1974-1975, ia terpilih masuk program Mobile Training Teams (MTT) yang dipimpin oleh Kapten Conway, pelatih dari pasukan elit Amerika Serikat, Green Berets.
Pada masa itu, Indonesia belum memiliki unit antiteror atau sniper yang profesional. Ide untuk melatih para penembak jitu muncul dari perwira TNI. Awalnya, rencananya adalah melibatkan anggota dari empat kesatuan, yaitu Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), dan Brimob (Polri). Namun, hanya TNI AD yang akhirnya memenuhi kuota.
Dari 60 kursi yang tersedia, Kopassus hanya mampu memenuhi 50 kursi. Untuk mengisi kekosongan 10 kursi, Tatang dan tujuh rekannya dilibatkan menjadi peserta. Mereka kemudian dilatih selama dua tahun oleh Kapten Conway. Pelatihan mencakup menembak jitu pada jarak 300, 600, dan 900 meter, serta latihan bertempur melawan penyusup, penggunaan kamuflase, melacak jejak, dan menghilangkan diri.
Setelah dua tahun pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus dan mendapatkan senjata Winchester model 70. Senjata dan ilmu yang diperoleh dari pelatihan tersebut membantu Tatang dalam pertempuran. Setelah itu, ia ditugaskan sebagai pengawal pribadi sekaligus sniper saat operasi militer di Timor Timur (1977-1978).
Ada dua tugas rahasia yang diberikan kepada dua sniper pada masa itu, yaitu Tatang dan Ginting. Pertama, mereka harus melumpuhkan empat target utama: sniper musuh, komandan, pemegang radio, dan anggota yang membawa senjata otomatis. Kedua, mereka bertugas sebagai intelijen, dengan tugas utama memantau kondisi medan dan melaporkannya ke atasan untuk menyusun strategi perang.
Lawan yang dihadapi adalah Pasukan Fretilin, yang sangat menguasai medan dan memiliki kemampuan gerilya yang hebat. Oleh karena itu, Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban.
Pernah suatu kali, Tatang ditugaskan masuk ke jantung pertahanan lawan tanpa disadari. Ia terjebak dalam kepungan 30 orang bersenjata lengkap. Dalam situasi kritis, ia harus membunuh komandannya terlebih dahulu. Ia menunggu hingga pukul 17.00 WIB, saat komandan itu pergi ke bawah, lalu menembak kepalanya.
Di bawah serangan yang deras, Tatang terkena dua peluru yang memantul dari pohon. Darah mengalir deras, namun ia tidak bergerak agar tidak memicu lawan menembak. Malam hari, ia mencoba mengikatkan tali bambu di kakinya dan menggunakan gunting kuku untuk mengeluarkan peluru dari betisnya. Darah tidak berhenti mengalir hingga ia melepas syal merah putih tempat menyimpan foto keluarga. Dengan doa, ia mengikatkan syal tersebut di kakinya, dan darah akhirnya berhenti mengalir.
Selama empat kali bertugas di medan perang, Tatang mengklaim bahwa pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 berhasil menghujam musuh. Satu peluru sengaja disisakan sebagai prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Jika dalam keadaan terdesak, seorang sniper akan membunuh dirinya sendiri dengan peluru tersebut.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
