Minggu, 13 September 2026Indonesia
Kompasia
Trending

Kapal Induk AS Bergerak ke Timur Tengah, Ancaman Serangan ke Iran Masih Mengancam

Oleh Pimpinan Redaksi Β· Januari 19, 2026 Β· 3 menit baca Penulis Terverifikasi
AA1Uubkl.jpg
βœ“ Penulis Verified

Gerakan Militer AS di Timur Tengah Terus Berjalan Meski Trump Mengatakan Akan Menunda Serangan

Meskipun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengisyaratkan akan menunda serangan terhadap Iran, gerakan militer AS di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Kapal-kapal induk dan pesawat tempur AS terus dikerahkan menuju kawasan Timur Tengah, menunjukkan persiapan yang intensif untuk kemungkinan tindakan militer.

Kapal induk AS USS Abraham Lincoln dilaporkan sedang melanjutkan perjalanannya ke wilayah tersebut dan diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari ke depan. Departemen Pertahanan AS sebelumnya telah memulai pemindahan kelompok penyerang kapal induk dari Laut Cina Selatan ke wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mencakup kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

USS Abraham Lincoln (CVN-72) adalah salah satu unit utama dalam operasi ini. Pergerakan kelompok penyerang yang mencakup kapal induk, pengawal permukaan, serta setidaknya satu kapal selam penyerang diperkirakan akan memakan waktu sekitar satu minggu. Selain itu, kapal induk USS George HW Bush juga dilaporkan sedang dalam perjalanan ke kawasan tersebut.

Persiapan Israel Menghadapi Potensi Serangan Iran

Di tengah situasi ini, Israel sedang melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi skenario respons terhadap potensi serangan Iran. Sumber-sumber melaporkan peningkatan kehadiran jet tempur Amerika dan aset pendukung militer lainnya di kawasan tersebut. Kemungkinan besar, skuadron tempur akan segera tiba di pangkalan militer AS di wilayah tersebut.

Menurut laporan Axios, ada empat alasan utama yang mendorong Presiden Trump untuk mundur dari rencana serangan militer terhadap Iran. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah pasukan dan alat tempur AS di kawasan tersebut, yang dinilai tidak cukup untuk menyerang Iran dan menghadapi tanggapan Iran terhadap serangan AS.

Selain itu, para pejabat AS dan Israel menyebutkan bahwa peringatan dari negara-negara sekutu AS menjadi faktor penting dalam keputusan Trump. Mereka khawatir serangan bisa memicu ketidakstabilan di kawasan. Iran sendiri telah menjanjikan serangan terhadap Israel dan pangkalan militer AS jika diserang, yang membuat PM Israel Benjamin Netanyahu dan negara-negara Arab merasa khawatir.

Isu Komunikasi Jalur Belakang antara Washington dan Teheran

Salah satu alasan lain yang mendorong Trump untuk menunda serangan adalah adanya komunikasi jalur belakang antara Washington dan Teheran. Para pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengirim pesan teks kepada utusan AS Steve Wittkopf pada hari Rabu, berjanji bahwa pihak berwenang Iran akan menunda rencana eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.

Di sisi lain, Kepala Staf Israel Eyal Zamir mengadakan pertemuan untuk membahas skenario tanggapan Israel terhadap kemungkinan serangan Iran. Media Israel Channel 13 melaporkan bahwa terdapat cukup rudal Arrow untuk mencegat rudal Iran. Namun, situasi tetap dipantau dengan cermat oleh semua pihak.

Kekhawatiran Iran atas Serangan dan Protes Rakyat

Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap upaya pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, akan dianggap sebagai deklarasi perang habis-habisan terhadap Iran. Pernyataan ini muncul setelah wawancara dengan presiden AS di Politico, di mana dia menyatakan bahwa saatnya untuk mencari kepemimpinan baru bagi Iran.

Trump juga menyarankan agar pemimpin Iran fokus menjalankan negaranya dengan benar, bukan membunuh ribuan orang untuk mendapatkan kendali. Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas tuduhan Khamenei yang mengatakan bahwa AS dan Israel terlibat dalam tindakan sabotase dan pembunuhan di Iran.

Sejak akhir Desember, Iran telah mengalami gelombang protes luas yang dimulai dari pemogokan pedagang pasar di Teheran karena kondisi kehidupan yang memburuk. Protes ini kemudian berkembang menjadi demonstrasi dengan slogan-slogan politik. Diperkirakan lebih dari 3.000 orang terbunuh selama 21 hari protes, dan lebih dari 24.000 orang ditangkap.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia