gambar whatsapp 2025 01 24 pukul 10.42.58 11c284af YNqPB4MW07fajKnd.jpg
Iman yang Kian Menghindar dari Ruang Publik
Nusa Tenggara Timur tidak pernah kekurangan iman. Gereja-gereja aktif, ibadah berjalan lancar, dan bahasa religius sering muncul dalam berbagai ruang sosial. Data BPS menunjukkan bahwa tingkat afiliasi agama dan partisipasi ibadah di NTT relatif tinggi dibanding rata-rata nasional. Dari luar, tampaknya iman masih mapan dan terjaga. Namun, di tengah keramaian itu, ada keheningan yang janggal.
Ketika kasus korupsi terbongkar setiap tahun, ketika pelayanan publik tidak seimbang, dan hukum terasa lebih ramah pada yang kuat, iman jarang muncul sebagai suara yang mengganggu kenyamanan. Ia hadir dalam doa, tetapi jarang menjadi bentuk keberpihakan. Di banyak mimbar, korupsi disebut sebagai dosa, tetapi jarang dibicarakan sebagai dosa struktural yang merampas kehidupan orang banyak. Ketidakadilan disebut sebagai keprihatinan, tetapi tidak dijadikan bahan refleksi bersama yang serius.
Akibatnya, iman tetap ramai, tetapi kehilangan daya kehadiran. Ekonom Kwik Kian Gie pernah mengingatkan bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan kejahatan yang merusak akal sehat bangsa dan menghancurkan kepercayaan publik. Ketika iman memilih diam di hadapan rusaknya kepercayaan publik itu, ia sedang mengundurkan diri dari tanggung jawab sosialnya sendiri.
Dari Iman Publik ke Iman Aman
Alergi iman terhadap ruang publik jarang lahir dari pengkhianatan besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang terus diulang dan dibiarkan. Iman diajarkan untuk taat, sabar, dan tidak membuat gaduh. Kritik dibungkus agar sopan. Ketidakadilan diserahkan pada mekanisme. Gereja diminta fokus pada urusan rohani.
Pelan-pelan, iman dipindahkan ke ruang aman. Ruang ibadah menjadi tempat berlindung dari realitas yang kusut. Doa menjadi mekanisme bertahan, bukan energi untuk bertindak. Kesalehan dipersempit menjadi urusan privat, sementara luka publik dianggap terlalu berisiko untuk disentuh.
Dalam situasi ini, iman tidak hilang, tetapi menyusut maknanya. Ia tetap dipraktikkan, tetapi kehilangan daya transformatifnya. Ia tidak lagi berani mengusik sistem, karena sistem dianggap bukan wilayah iman. Filsuf Franz Magnis Suseno menegaskan bahwa negara hukum runtuh bukan ketika hukum tidak ada, melainkan ketika hukum tidak dipercaya. Ketika iman menarik diri dari ruang publik, ia ikut mempercepat runtuhnya kepercayaan itu. Bukan karena iman jahat, melainkan karena iman memilih aman.
Bahasa Iman yang Dijinakkan dan Ketakutan yang Disembunyikan
Salah satu gejala paling jelas dari iman yang alergi pada ruang publik adalah bahasa yang kehilangan daya gugat. Kata-kata seperti “bersabar”, “menyerahkan pada Tuhan”, “mengampuni”, dan “jangan menghakimi” kerap dipakai untuk meredam kegelisahan moral. Bahasa iman yang seharusnya membongkar kepalsuan justru berubah menjadi selimut yang nyaman.
Bahasa semacam ini menenangkan, tetapi tidak menyembuhkan. Ia menghibur, tetapi tidak membebaskan. Ia merawat ketertiban batin, tetapi mengabaikan ketidakadilan yang terus bekerja di luar sana. Padahal tradisi Mazmur mengenal bahasa iman yang jauh lebih jujur. Pemazmur berani marah, berani menggugat, dan berani menyebut ketidakadilan apa adanya. Ia tidak takut terdengar tidak sopan di hadapan Allah, karena kejujuran dianggap lebih setia daripada kepura-puraan.
Di balik bahasa iman yang dijinakkan itu, tersembunyi ketakutan yang jarang diakui. Takut dianggap melawan. Takut dicap politis. Takut mengganggu harmoni semu. Takut kehilangan posisi aman dalam struktur yang mapan. Teolog Dietrich Bonhoeffer pernah menulis bahwa diam di hadapan kejahatan adalah kejahatan itu sendiri. Kalimat ini keras, tetapi justru di situlah iman diuji. Diam yang panjang bukanlah netralitas, melainkan posisi moral yang memilih tidak terlibat.
Mazmur 89 dan Iman yang Tidak Mencari Aman
Mazmur 89 tidak lahir dari ruang aman. Ia lahir dari krisis politik, dari runtuhnya harapan pada kekuasaan yang adil, dan dari pengalaman iman yang diguncang. Pemazmur memuji kesetiaan Allah sambil menggugat realitas yang tidak sejalan dengan janji. Inilah iman yang tidak alergi pada ruang publik. Iman yang tahu bahwa kesetiaan kepada Allah tidak pernah identik dengan kepatuhan pada ketidakadilan.
Iman yang berani berdiri di wilayah tidak nyaman, di antara pujian dan protes. Mazmur mengajarkan bahwa iman yang hidup selalu bersentuhan dengan sejarah, konflik, dan penderitaan manusia. Iman yang terlalu steril justru kehilangan jejak Allah dalam dunia yang nyata. Allah yang setia justru dikenal di tengah dunia yang retak, bukan di ruang yang sepenuhnya rapi.
Dalam konteks ini, membaca Mazmur 89 di Nusa Tenggara Timur berarti membaca iman yang berani menolak normalisasi ketidakadilan. Ia memanggil umat untuk tidak cepat berdamai dengan sistem yang melukai kehidupan.
Dorongan Profetik bagi Iman Publik
Kesetiaan Allah tidak pernah diragukan. Yang rapuh justru kesaksian umat Nya. Allah tetap setia pada kehidupan, pada yang lemah, dan pada kebenaran. Pertanyaannya adalah apakah iman bersedia berjalan seiring dengan kesetiaan itu, atau terus memilih jalan aman.
Menyembuhkan luka hukum yang berpihak dan keadilan yang patah tidak cukup dengan regulasi dan aparat. Ia membutuhkan iman publik yang hadir. Iman yang berani bersuara tanpa teriak-teriak. Iman yang konsisten tanpa kehilangan empati. Iman yang sanggup menertawakan ironi dirinya sendiri agar tidak membeku secara moral.
Bukan iman yang paling rapi, melainkan iman yang hadir di tengah luka. Bukan gereja yang paling benar, melainkan gereja yang tidak berpaling ketika keadilan dilukai. Mazmur 89 tidak menawarkan solusi cepat. Ia menawarkan keberanian untuk tetap setia ketika dunia belum berubah. Dalam konteks Nusa Tenggara Timur, keberanian itulah yang kini dibutuhkan. Dan mungkin, dari iman publik yang tidak lagi alergi pada ruang inilah, keadilan yang patah perlahan menemukan jalan untuk disembuhkan.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
