SUKABUMI – Perdebatan terkait keberadaan portal parkir di jalur menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Palabuhanratu memunculkan diskursus penting tentang batas antara manajemen sistem dan urgensi keselamatan pasien.
Video antrean kendaraan di depan IGD yang beredar luas di media sosial memantik kekhawatiran masyarakat. Dalam situasi darurat, setiap detik memiliki arti. Karena itu, muncul pertanyaan publik: apakah sistem parkir di jalur IGD sudah sepenuhnya mempertimbangkan prinsip kecepatan dan akses tanpa hambatan?
Penjelasan Pengelola: Keamanan Kendaraan Jadi Pertimbangan
Pihak pengelola parkir, PT Karya Kencana Solutindo, menyatakan bahwa pemasangan portal bukan bertujuan menghambat layanan IGD, melainkan untuk menjaga keamanan kendaraan dan mencegah lalu lintas parkir yang tidak tertib di area rumah sakit.
Menurut pengelola, tanpa kontrol berupa portal, jalur IGD berpotensi disalahgunakan sebagai akses keluar-masuk kendaraan umum, yang justru dapat menimbulkan risiko lain seperti kehilangan kendaraan atau kekacauan arus lalu lintas internal rumah sakit.
Dari sudut pandang manajemen, argumen ini dapat dipahami. Rumah sakit adalah fasilitas publik dengan mobilitas tinggi dan risiko keamanan yang nyata.
Namun, IGD Memiliki Standar yang Berbeda
Meski demikian, IGD bukanlah area parkir biasa. Ia adalah zona kritis yang secara prinsip seharusnya bebas hambatan fisik dan administratif. Di banyak rumah sakit, akses IGD dirancang tanpa keharusan berhenti, menunggu, atau melakukan interaksi dengan sistem apa pun—termasuk portal otomatis.
Masalahnya bukan semata soal durasi antrean apakah benar mencapai 15 menit atau tidak. Dalam konteks layanan gawat darurat, bahkan penundaan singkat pun sudah cukup menjadi alarm evaluasi.
Di sinilah letak kepekaan kebijakan diuji:
bukan pada benar atau tidaknya klaim durasi, melainkan pada potensi risiko yang ditimbulkan.
Persepsi Publik Tidak Bisa Diabaikan
Pengelola mengimbau agar masyarakat tidak cepat menarik kesimpulan sebelum mengecek data CCTV. Namun dalam layanan kesehatan publik, persepsi masyarakat adalah bagian dari indikator mutu layanan.
Ketika publik melihat kendaraan tertahan di depan IGD, kepercayaan terhadap sistem ikut diuji. Rumah sakit bukan hanya harus aman secara teknis, tetapi juga harus memberi rasa aman secara psikologis kepada pasien dan keluarga.
Perlu Titik Temu, Bukan Saling Menegaskan Posisi
Kasus ini seharusnya tidak dilihat sebagai konflik antara pengelola parkir dan manajemen rumah sakit, melainkan sebagai momen evaluasi bersama. Keamanan kendaraan dan kelancaran IGD bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Solusi bisa beragam:
penempatan portal di luar zona kritis, penguatan peran petugas, penggunaan sistem bypass darurat, atau desain ulang arus kendaraan yang lebih adaptif terhadap kondisi emergensi.
Kesimpulan: Sistem Harus Mengikuti Fungsi
Modernisasi sistem parkir adalah kebutuhan. Keamanan adalah keharusan. Namun pada fasilitas kesehatan, terutama IGD, fungsi utama tidak boleh dikalahkan oleh sistem pendukung.
Portal dapat dipasang. Teknologi dapat digunakan.
Tetapi ketika menyangkut jalur penyelamatan nyawa, satu prinsip harus menjadi pegangan: akses cepat, tanpa kompromi.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
