edukasi tentang kekerasan anak di sekolah e07i dom.jpg
Fokus pada Keamanan Emosional Anak dalam Pendidikan
Dalam dunia pendidikan yang semakin kompetitif, banyak orang tua dan guru cenderung memprioritaskan nilai, ranking, serta capaian akademik. Namun, di balik angka-angka tersebut, ada aspek penting yang sering kali terabaikan, yaitu keamanan emosional anak. Tanpa rasa aman dan nyaman secara emosional, anak bisa kehilangan motivasi belajar dan mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran.
Psikolog anak Anastasia Satriyo, M.Psi, menekankan bahwa otak anak tidak dapat bekerja optimal jika sedang dalam situasi bertahan hidup secara emosional. Dalam kondisi seperti ini, anak sulit untuk fokus, mudah cemas, atau bahkan kehilangan minat belajar. Menurutnya, rasa aman berarti anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak ditakuti. Dengan rasa aman, bagian otak yang berperan dalam berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dapat bekerja dengan baik.
Sebaliknya, ketika anak merasa tertekan, takut salah, atau takut dimarahi, otaknya justru berada dalam mode bertahan hidup. Dalam kondisi ini, anak mungkin tampak malas atau tidak fokus, padahal sebenarnya otaknya sedang melindungi diri dari tekanan emosional. Karena itu, belajar bukan hanya tentang materi pelajaran, tetapi juga proses relasional. Anak selalu bertanya dalam hati: Apakah aku aman untuk mencoba?
Dampak Fokus Berlebihan pada Nilai dan Ranking
Ketika lingkungan belajar terlalu menitikberatkan pada pencapaian akademik, efeknya bisa sangat panjang. Anak yang kesulitan secara akademik cenderung merasa dirinya “bermasalah”, padahal kemungkinan besar gaya belajarnya berbeda dari sistem pengajaran yang ada. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan anak sulit mengenal diri sendiri, cepat burnout, dan kehilangan rasa ingin tahu alami. Padahal, rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama dalam belajar.
Anastasia menjelaskan bahwa pendekatan reflektif menjadi solusi penting dalam mengatasi masalah ini. Melalui refleksi, anak diajak untuk memahami bahwa dirinya bukan sekadar hasil akhir. Anak belajar mengenali kekuatan dan area yang perlu dikembangkan, serta memahami bahwa gagal tidak sama dengan tidak berharga. Dari proses ini, kepercayaan diri yang sehat dapat terbentuk.
Model Pembelajaran Reflektif dan Sekolah yang Inovatif
Model reflektif mengajarkan anak bahwa “aku bukan hanya nilai, aku adalah proses”. Pendekatan ini menjadi dasar bagi beberapa sekolah yang berupaya membangun pengalaman belajar yang lebih baik. Salah satunya adalah North Jakarta Intercultural School (NJIS), yang menempatkan kesejahteraan emosional sebagai faktor kunci dalam pembelajaran.
Head of School NJIS, Ezra Alexander, menegaskan bahwa pembelajaran yang bermakna tidak dapat dilepaskan dari kondisi emosional siswa. Menurutnya, kurikulum memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman tersebut. Oleh karena itu, NJIS memilih Kurikulum International Baccalaureate (IB), yang dirancang untuk menyeimbangkan tantangan intelektual dengan refleksi dan rasa aman emosional.
Ezra menjelaskan bahwa kurikulum ini memberi ruang bagi setiap anak untuk merasa cukup aman berkata “aku belum bisa”, lalu cukup percaya diri untuk mencoba lagi. Di situlah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi. Sekolah harus hadir sebagai ruang aman yang menghargai proses, tidak memberi stigma pada kesalahan, serta tidak memuja capaian akademik.
Masa Depan Pendidikan yang Seimbang
Menurut pandangan Ezra, masa depan pendidikan harus dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar emosional dalam membentuk pribadi anak secara menyeluruh. Pendidikan ke depan tidak bisa berjalan timpang, ia harus menyeimbangkan kemampuan intelektual dengan kesadaran diri, kematangan emosional, dan nilai-nilai kemanusiaan agar anak benar-benar tumbuh sebagai manusia seutuhnya. Dengan demikian, anak akan memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan di masa depan.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Guru Honorer: Gaji Rp 400.000 Masuk, Cek Tanggal Cair!
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Share this content:
