Sabtu, 12 September 2026Indonesia
Kompasia
news

Streaming langsung mahasiswa Jakarta jadi perhatian media internasional

Oleh Pimpinan Redaksi Β· Juni 12, 2026 Β· 3 menit baca Penulis Terverifikasi
icomus all 2048x2048.jpg
βœ“ Penulis Verified

Aksi Mahasiswa di Tengah Tekanan Ekonomi

Pada Jumat (12/6/2026), mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan daerah-daerah lainnya turun ke jalan dalam aksi serentak. Aksi ini menyoroti isu-isu ekonomi yang dinilai memengaruhi masyarakat luas, terutama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Isu Ekonomi yang Mengemuka

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu fokus utama demonstrasi. Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan Jumat tersebut. Di sisi lain, kenaikan harga BBM juga menjadi sorotan, khususnya untuk jenis Pertamax (RON 92) yang naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.

Kombinasi antara kenaikan harga BBM dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi latar belakang utama aksi mahasiswa. Mereka menilai kondisi ekonomi Indonesia semakin memburuk, sementara pemerintah dianggap masih menjalankan program-program dengan anggaran besar.

Perhatian Media Internasional

Aksi mahasiswa tersebut mendapat perhatian dari berbagai media internasional. Misalnya, The Straits Times melaporkan bahwa Jakarta akan mengerahkan ribuan petugas polisi untuk menghadapi aksi mahasiswa yang menentang Prabowo. Sementara itu, The Star menulis artikel berjudul “Indonesian students to rally against Prabowo amid economic pressures”.

Media asing menyoroti bahwa aksi mahasiswa mengangkat isu-isu ekonomi yang langsung berdampak pada masyarakat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, harga BBM, dan melemahnya daya beli. Kondisi ini juga menarik perhatian investor asing yang beberapa bulan terakhir menarik dana dari pasar Indonesia.

Tanggapan dari Pengamat Politik

Direktur Eksekutif Indeks Data Nasional, Ayip Tayana, menyatakan bahwa pelemahan rupiah tidak dapat diselesaikan hanya melalui tekanan politik atau ultimatum kepada pemerintah. Menurutnya, penguatan nilai tukar rupiah hanya bisa dicapai melalui kebijakan ekonomi yang tepat, disiplin fiskal, serta terjaganya kepercayaan pasar.

Ayip menegaskan bahwa rupiah akan menguat jika ada kepercayaan pasar, stabilitas politik, dan kebijakan fiskal yang disiplin. Ia menilai bahwa aksi-aksi yang menciptakan narasi ketidakstabilan politik justru berpotensi menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.

Reformasi Jilid 2 dan Potensi Kekhawatiran

Beberapa kelompok mahasiswa menyuarakan gerakan Reformasi Jilid 2 sebagai bentuk kritik terhadap kondisi ekonomi nasional. Salah satu yang menjadi sorotan adalah ultimatum dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah kepada pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperbaiki kondisi ekonomi dalam waktu 18 hari.

Namun, Ayip Tayana menilai bahwa jika isu pelemahan rupiah dijadikan dasar untuk membangun narasi pemakzulan atau pelengseran pemerintahan, maka hal itu dinilai tidak berkaitan langsung dengan persoalan ekonomi yang sedang dihadapi. Ia menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih memiliki legitimasi politik yang kuat.

Keberlanjutan Aksi Mahasiswa

Menurut Ayip, situasi ekonomi dan politik saat ini berbeda jauh dibandingkan masa krisis moneter 1998 yang berujung pada perubahan pemerintahan. Meski Indonesia menghadapi tantangan ekonomi, pemerintahan Prabowo-Gibran masih memiliki dukungan yang kuat dari berbagai partai politik.

Selain itu, belum terlihat adanya konsolidasi besar dari berbagai kelompok masyarakat yang dapat mendorong terjadinya perubahan politik seperti pada era Reformasi 1998. Ayip menilai bahwa perubahan seperti itu sulit terjadi dalam situasi saat ini.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia