Trump Melanjutkan Langkah Agresif, Ancaman Kekuasaan Global Meningkat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus memperluas pengaruhnya di berbagai belahan dunia dengan berbagai ancaman dan tindakan yang menimbulkan kekhawatiran. Setelah operasi militer Absolute Resolve berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Trump tampaknya tidak berhenti pada tindakan tersebut. Ia terus mengambil langkah-langkah agresif yang menunjukkan ambisi kekuasaan global.
Wilayah yang Diincar oleh Trump
Beberapa wilayah kunci menjadi target utama dari kebijakan Trump. Salah satunya adalah Greenland, yang merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. AS kembali mempertimbangkan opsi militer untuk menguasai pulau ini, terutama karena posisinya strategis di kawasan Arktik. Selain itu, Greenland juga dikenal kaya akan mineral tanah jarang dan cadangan energi fosil. Dalam laporan terbaru, Trump disebut telah memerintahkan para panglima operasi khusus AS untuk menyiapkan rencana invasi ke Greenland. Hal ini memicu kegelisahan di Eropa, terutama dari Denmark dan negara-negara sekutu NATO lainnya.
Ancaman Terhadap Iran
Di kawasan Timur Tengah, Trump mengancam akan bertindak keras jika aparat Iran menggunakan kekerasan mematikan terhadap demonstran anti-pemerintah. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menolak mundur dan menuding demonstran sebagai perpanjangan tangan Trump. Krisis ekonomi dan ketidakpuasan politik di Iran membuat situasi semakin memanas, sementara Trump tetap bersikeras pada pendiriannya.
Tindakan Militer di Meksiko dan Nigeria
Trump juga menyatakan kemungkinan serangan darat terhadap kartel narkoba di Meksiko, menuding bahwa narkoba mengalir deras dari negara tersebut. Di Nigeria, ia mengancam akan mengizinkan serangan tambahan terhadap militan ISIS jika serangan terhadap umat Kristen terus berlanjut. Namun, motif kekerasan di Nigeria masih diperdebatkan, dengan konflik lahan, air, dan kriminalitas umum juga menjadi faktor penting.
Hubungan dengan Kolombia dan Venezuela
Hubungan AS–Kolombia sempat mereda setelah Trump menerima telepon dari Presiden Gustavo Petro. Trump menyebut percakapan itu “bernada baik” dan mengundang Petro ke Gedung Putih. Namun, sebelumnya, Trump sempat menyebut invasi ke Kolombia “terdengar bagus” dan melabeli Petro sebagai “orang sakit”. Petro menegaskan akan “mengangkat senjata” jika AS menyerang negaranya.
Sementara itu, Trump mengumumkan pembatalan gelombang serangan kedua ke Venezuela, dengan alasan adanya kerja sama dalam pembangunan kembali infrastruktur minyak dan gas. Ia menyebut Venezuela “sangat cerdas” dalam menghadapi AS setelah Maduro digulingkan.
Kekhawatiran Internasional
Analis geopolitik memperingatkan bahwa tindakan Trump dapat menciptakan kekosongan kepemimpinan yang akan segera diisi oleh kekuatan rival seperti China dan Rusia. Ketegangan di Arktik dan Amerika Latin yang dipicu oleh retorika Trump pada tahun 2025-2026 ini memaksa banyak negara untuk melakukan militerisasi mandiri dan mencari kemitraan baru di luar kendali Washington.
Dampak Jangka Panjang
Dampak jangka panjang dari kebijakan ini adalah terciptanya tatanan dunia yang lebih terfragmentasi dan militeristik, di mana hukum rimba kembali mendominasi panggung global. Krisis Greenland secara khusus menjadi simbol transisi tatanan dunia di mana kekuatan fisik dan kendali atas aset strategis (seperti mineral langka dan jalur pelayaran) dianggap lebih bernilai daripada kesetiaan diplomatik puluhan tahun, yang pada akhirnya menempatkan dunia dalam situasi ketidakpastian keamanan yang sangat tinggi.
Penolakan Internal Militer dan Reaksi Eropa
Di dalam militer AS, ada perbedaan sikap terkait rencana invasi ke Greenland. Sejumlah perwira senior dikabarkan menolak gagasan tersebut, namun penolakan itu disebut berhadapan langsung dengan dukungan dari lingkaran dekat Trump. Sementara itu, reaksi dari Eropa sangat keras. Denmark mengecam tindakan Trump dan meminta klarifikasi dari Duta Besar AS di Kopenhagen. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen secara tegas memperingatkan Washington agar tidak mencoba merebut pulau tersebut, seraya menekankan pentingnya penghormatan terhadap integritas teritorial.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
