WhatsApp Image 2023 08 01 at 19.27.22.jpeg
Kontak Senjata TNI dan KKB di Distrik Dekai
Pada hari Kamis (22/1/2026), terjadi baku tembak antara pasukan TNI dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua. Peristiwa ini terjadi saat Satgas Koops TNI Habema yang sedang melakukan patroli keamanan berhasil menemukan markas utama OPM Kodap XVI Yahukimo di Distrik Dekai. Dalam kontak senjata tersebut, anggota KKB terpaksa berlarian untuk menyelamatkan diri.
Akibatnya, Satgas TNI berhasil merebut dan menguasai markas utama OPM Kodap XVI Yahukimo. Wilayah Yahukimo merupakan salah satu dari delapan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan. Namun, Yahukimo bukan satu-satunya basis KKB di kawasan ini. Kelompok tersebut juga tersebar di beberapa daerah lain seperti Kabupaten Nduga, Lanny Jaya, Tolikara, dan Yalimo.
Patroli keamanan di Distrik Dekai dimulai sejak malam hari Rabu (21/1/2026). Satgas melakukan infiltrasi ke Markas Sisibia dan Markas Yalenang. Tujuan dari patroli ini adalah untuk menindaklanjuti ancaman yang datang dari kelompok separatis bersenjata OPM yang selama ini mengganggu stabilitas keamanan di kawasan Jalan Gunung Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo.
Ancaman yang dikhawatirkan mencakup penembakan terhadap pesawat, penembakan kendaraan aparat, pembakaran sekolah, serta penembakan terhadap warga sipil. Pada dini hari hari Kamis (22/1/2026), akhirnya terjadi kontak tembak antara pasukan dan kelompok OPM.
Dari hasil kontak tersebut, beberapa anggota OPM Kodap XVI/Yahukimo dilaporkan tewas. Salah satunya disebut-sebut merupakan tokoh penting. Selain itu, Satgas juga berhasil mengamankan beberapa pucuk senjata api. Ditemukan juga amunisi, puluhan selongsong, alat komunikasi, perangkat navigasi, telepon genggam, senjata tajam, perlengkapan panah, bendera Bintang Kejora, dan dokumen TPNPB Kodap XVI/Yahukimo.
Setelah operasi, Satgas berhasil menguasai Markas Sisibia dan Markas Yalenang. Mereka juga menyatakan bahwa berkat dukungan masyarakat setempat, patroli keamanan dapat berjalan aman dan terkendali. Diharapkan, kegiatan ini mampu melemahkan kekuatan OPM dan meningkatkan rasa aman di wilayah Yahukimo.
Pangkoops Habema Mayjen TNI Lucky Avianto menyatakan bahwa keberhasilan patroli ini menunjukkan komitmen TNI dalam menjaga kedaulatan NKRI dan melindungi masyarakat dari ancaman kelompok bersenjata. Ia juga menekankan bahwa penguasaan Jalan Gunung menjadi langkah strategis untuk memutus ruang gerak dan jalur logistik OPM, serta menjamin keamanan masyarakat di wilayah Yahukimo.
Ancaman dari KKB yang Menggagalkan Kunjungan Gibran
Sebelumnya, KKB Papua di Kabupaten Yahukimo sempat menebar ancaman yang membuat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membatalkan kunjungan kerjanya ke wilayah tersebut. Awalnya, Yahukimo masuk dalam agenda kunjungan kerja Wapres Gibran usai meninjau Pasar Potikelek dan SMA Negeri 1 Wamena.
Namun, muncul ancaman penembakan dari KKB Papua yang ditujukan ke rombongan Wapres Gibran. Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka, menyatakan bahwa pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo di bawah pimpinan Akar Heluka telah melakukan penembakan terhadap sebuah pesawat sipil yang ditumpangi oleh aparat militer yang memasuki wilayah perang di Yahukimo.
Mayor Kopitua Heluka juga melaporkan bahwa penembakan pesawat tersebut sebagai peringatan keras kepada Wapres Gibran agar tidak memasuki wilayah perang di Yahukimo. Jika melanggar, maka TPNPB Kodap XVI Yahukimo siap menembak rombongan Wakil Presiden dan rombongannya.
TPNPB menegaskan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka agar terlebih dahulu menyelesaikan sengketa politik di Tanah Papua antara orang Papua dengan pemerintah Indonesia. Jika tidak, maka TPNPB di 36 Komando Daerah Pertahanan di seluruh tanah Papua siap menggagalkan seluruh pembangunan di atas tanah Papua.
Mereka juga meminta kepada rakyat Papua dari Sorong hingga Samarai untuk tidak memberikan tanah adat kepada negara kolonial Indonesia demi pembangunan lahan sawit, padi, dan pos militer. Kelompok ini menilai kebijakan tersebut akan mengancam kehidupan masyarakat adat, karena akan diikuti dengan penangkapan, penembakan, dan pembunuhan terhadap orang Papua oleh aparat militer Indonesia.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
