AA1Uubkl.jpg
Tatanan Internasional yang Rapuh
Tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa tatanan internasional pasca-Perang Dingin semakin rapuh. Banyak pengamat, politikus, dan ahli hubungan internasional menyatakan bahwa dunia kini berada di fase paling berbahaya sejak 1945. Berbagai ancaman dan ketegangan global mulai memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya konflik besar.
Pemerintahan Donald Trump dianggap sebagai salah satu penggerak “proyek imperialis baru” yang ditandai dengan pendekatan unilateralisme agresif. Dari rencana penguasaan Greenland hingga intervensi militer di Amerika Latin, pendekatan ini dinilai menciptakan preseden berbahaya yang bisa saja ditiru oleh negara-negara besar lainnya seperti Rusia dan Tiongkok. Akibatnya, risiko konflik global meningkat secara signifikan.
Timur Tengah: Titik Api Utama
Timur Tengah menjadi salah satu titik api utama dalam situasi global saat ini. Ancaman intervensi militer Amerika Serikat terhadap Iran, terutama di tengah gelombang protes domestik di Iran, memicu eskalasi retorika dan kesiapan militer. Teheran menuduh Washington secara sengaja meningkatkan ketegangan kawasan. Dua tahun genosida di Gaza yang dilakukan Israel menjadi pemicu memanasnya situasi belakangan. Iran agaknya menjadi sasaran negara Zionis dan AS karena merupakan satu-satunya negara formal di kawasan yang melakukan tindakan nyata atas aksi Israel yang telah membunuh 71 ribu warga Gaza, kebanyakan anak-anak dan perempuan.
Kelompok-kelompok yang didukung Iran seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon juga melancarkan serangan untuk menekan Israel menghentikan agresi di Gaza. Tentara Israel menghancurkan seluruh blok pemukiman di kamp Jabalia, sebelah utara Jalur Gaza, akhir Agustus 2025. Dalam eskalasi terkini, ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan dan kapal Israel serta Amerika di kawasan. Ini mendesak Israel dan sejumlah negara Arab agar AS menunda menyerang Iran.
Eropa: Kesiapan untuk Konflik Bersenjata
Selama Perang Dingin, selalu ada potensi konflik di Eropa. Namun saat ini, pernyataan-pernyataan pejabat di kedua sisi Atlantik, Rusia dan di seluruh Eropa Barat, menunjukkan kesiapan retoris untuk konflik bersenjata dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya. Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán mengeklaim bahwa para pemimpin Eropa telah membentuk “Dewan Perang” untuk merencanakan kemenangan dalam potensi perang dunia ketiga.
Mark Rutte, Sekjen NATO, baru-baru ini mengatakan bahwa negara-negara Barat “harus bersiap menghadapi perang besar seperti yang dialami kakek dan nenek kita”. Sementara Panglima Angkatan Udara Inggris Sir Richard Knighton mengatakan bahwa situasi saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan masa-masa sebelumnya dalam kariernya. Ketika Vladimir Putin terus menunda perundingan perdamaian, ia juga memperingatkan bahwa ia siap berperang dengan Eropa jika diperlukan.
Laut Asia Timur: Potensi Konflik Global
Selat Taiwan juga disebut banyak analis sebagai medan paling berbahaya di abad ke-21. Beijing memandang Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari China, sementara Amerika Serikat semakin terbuka mendukung status quo kemerdekaan de facto pulau tersebut. Latihan militer besar-besaran Pasukan Pembebasan Rakyat (PLA) China dengan peluru tajam, simulasi blokade, uji tongkang pendaratan amfibi, hingga pengembangan pemotong kabel laut menunjukkan kesiapan China untuk operasi militer kompleks.
Pada tanggal 31 Desember 2025, Beijing merilis pidato Tahun Baru yang disampaikan oleh Presiden Xi Jinping ketika negara tersebut bersiap memasuki tahun 2026. Selain masalah dalam negeri, Taiwan sekali lagi muncul sebagai titik fokus utama, yang mencerminkan tekad Beijing yang semakin besar. Dalam pidatonya, Presiden Xi menegaskan bahwa “Masyarakat China di kedua sisi Selat Taiwan memiliki garis keturunan dan kekerabatan yang sama. Reunifikasi nasional, sebagai tanda zaman, tidak dapat dihentikan.”
Korea Utara: Ancaman Tambahan
Korea Utara menambah lapisan ancaman baru. Uji coba rudal balistik, penguatan industri senjata, serta pengembangan kapal perang berkemampuan nuklir menunjukkan ambisi militer Pyongyang yang meningkat drastis. Hubungan militer dengan Rusia, termasuk pengiriman pasukan ke Ukraina, memunculkan kekhawatiran transfer teknologi strategis. Di saat yang sama, Korea Utara menjauh dari gagasan reunifikasi damai dan meningkatkan provokasi di perbatasan.
Dunia di Persimpangan Sejarah
Yang jelas, dunia kini berada pada persimpangan sejarah. Konflik-konflik regional yang saling terhubung membuat satu kesalahan kalkulasi saja cukup untuk menyalakan api perang global. Seperti diingatkan para analis, pertanyaannya bukan lagi apakah eskalasi mungkin terjadi, melainkan apakah dunia siap menanggung konsekuensinya ketika para pemimpin dunia kehilangan akal sehat dan terus memilih konfrontasi.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
