Kisah menyentuh di balik bencana gempa Venezuela

Ringkasan Berita: Gempa di Venezuela menewaskan 4.333 jiwa. Tukang jahit membuat kantong mayat, sedangkan restoran cepat saji diubah menjadi klinik…
1 Min Read 0 1
Ringkasan Berita:
  • Gempa di Venezuela menewaskan 4.333 jiwa. Tukang jahit membuat kantong mayat, sedangkan restoran cepat saji diubah menjadi klinik untuk menyelamatkan para korban.
  • Di tengah gempa bumi yang terjadi di Venezuela, masyarakat saling membantu para korban. Penjahit, dokter, serta relawan berupaya mengubah kesedihan menjadi tindakan kemanusiaan nyata.
  • Ketika rumah sakit kewalahan, restoran cepat saji berubah menjadi klinik darurat. Dokter berhasil menyelamatkan seorang ibu setelah melahirkan di tengah krisis Venezuela.
 

Kepri KPA NEWS –Di tengah rasa sedih akibat gempa besar yang mengguncang Venezuela, kisah mengenai kerusakan justru disertai dengan munculnya kebersamaan yang luar biasa.

Saat jumlah korban tewas terus meningkat, rumah sakit tidak mampu menampung pasien lagi, dan peluang menemukan para penyintas semakin berkurang, warga sipil, tenaga kesehatan, hingga desainer pakaian mengambil bagian masing-masing dalam upaya menyelamatkan sesama.

Dari ruang jahit yang berubah menjadi tempat pembuatan kantong mayat hingga restoran cepat saji yang diubah menjadi klinik darurat, bencana ini menunjukkan bagaimana kemanusiaan tetap bertahan di tengah reruntuhan.

Gempa dengan kekuatan 7,2 dan 7,5 skala Richter yang melanda Venezuela pada 24 Juni menyebabkan kematian minimal sebanyak 4.333 orang.

Pemerintah juga mencatat sebanyak 16.740 orang mengalami luka-luka, 6.462 korban berhasil diselamatkan, serta sekitar 17.000 penduduk kehilangan tempat tinggal.

Ada sebanyak 315 jenazah yang belum dapat dikenali, sementara operasi pencarian tetap berlangsung karena masih terdapat beberapa lokasi yang diduga menyimpan korban yang selamat.

Di tengah meningkatnya kebutuhan penanganan korban, bantuan tidak hanya datang dari pemerintah dan tim penyelamat yang ahli.

Warga sipil justru menjadi pihak pertama yang terlibat dalam berbagai operasi penyelamatan dan pemulihan, bekerja sama dengan relawan, petugas pemadam kebakaran, personel militer, hingga tim penyelamat dari luar negeri.

Salah satu contohnya adalah desainer pakaian Efrain Mogollon. Di studio yang biasanya dipenuhi dengan berbagai desain gaun berwarna-warna, suara mesin jahit kini menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda. Para karyawan tidak lagi menjahit pakaian, tetapi merakit lembaran plastik hitam menjadi kantong jenazah.

Hanya ada satu hiasan di dalam kantong tersebut, yaitu gambar Yesus yang ditempelkan dekat ritsleting.

Barang yang biasanya terkait dengan dunia mode kini berubah menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa.

“Perasaannya benar-benar berbeda. Namun pada saat yang bersamaan kami merasa puas karena, melalui kontribusi kecil ini, kami bisa memberikan bantuan,” ujar Mogollon saat membawa kantong jenazah ke ambulans di Catia La Mar, wilayah pesisir Negara Bagian La Guaira yang menjadi salah satu daerah paling parah terdampak gempa.

Permintaan terhadap kantong jenazah semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah korban yang meninggal. Pemerintah masih terus melakukan proses identifikasi ratusan jenazah yang belum dapat dikenali, sementara pencarian korban di bawah reruntuhan belum berhenti.

Di sisi lain, sistem kesehatan mengalami kekacauan karena jumlah korban luka yang sangat banyak. Di La Guaira, sebuah restoran cepat saji McDonald’s bahkan dijadikan sebagai rumah sakit darurat oleh dokter sukarelawan.

Ruang makan sebuah restoran diubah menjadi ruang operasi, area kasir berubah menjadi apotek darurat, sedangkan lantai atas diisi dengan tempat tidur sebagai tempat istirahat dokter, perawat, dan tim penyelamat internasional yang tidak memiliki tempat tinggal.

Fasilitas darurat dibangun berkat bantuan masyarakat sipil setelah rumah sakit kewalahan menangani ribuan korban. Alat medis digantung dengan menggunakan perban, sementara penerangan selama operasi hanya mengandalkan cahaya dari ponsel para perawat karena listrik belum pulih sepenuhnya.

Salah satu operasi yang paling menakjubkan dilalui oleh Dr. Miguel Romero.

Ia masih mengingat seorang wanita yang datang ke klinik darurat dengan cara berjalan “seperti penguin kecil” sambil terus mengeluarkan cairan dari tubuhnya.

Perempuan tersebut baru saja melahirkan secara mandiri, namun sebagian dari plasenta masih tersisa di dalam rahimnya, sehingga berpotensi menyebabkan perdarahan yang parah.

Dua perawat segera membawa pasien ke meja operasi darurat. Di dalam ruangan yang suhu udaranya melebihi 40 derajat Celsius, tanpa penerangan yang cukup dan hanya menggunakan kursi dari restoran sebagai tempat operasi, Romero berhasil mengangkat seluruh sisa plasenta dalam waktu kurang dari satu jam, sehingga nyawa pasien bisa diselamatkan.

Meskipun sebelumnya pernah melakukan prosedur serupa, Romero mengakui belum pernah melakukan operasi terhadap pasien dengan kondisi yang sangat kritis.

Klinik darurat ini awalnya berawal dari inisiatif seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang mendirikan pos kesehatan sederhana di dekat sebuah restoran dengan menggunakan selimut dan dua terpal.

Setelah berhasil membantu seorang petugas kepolisian yang mengalami tekanan darah rendah, ia memohon izin menggunakan bangunan restoran agar pelayanan kesehatan bisa dilakukan dengan lebih baik.

Keesokan harinya, restoran tersebut secara resmi berubah menjadi rumah sakit lapangan yang hingga saat ini masih menerima pasien, merawat hewan peliharaan para korban, serta menjadi tempat tinggal bagi tim penyelamat dari berbagai negara.

Di sisi lain, pemerintah mencatat setidaknya 856 bangunan mengalami kerusakan, termasuk 190 bangunan yang hancur total atau mengalami kerusakan struktural parah. Sekitar 25.000 unit rumah diperkirakan diperlukan untuk menampung para korban bencana, dengan pembangunan tahap awal akan segera dimulai.

Meski peluang menemukan korban yang selamat semakin berkurang, operasi pencarian masih terus berlangsung.

“Sepanjang masih ada kehidupan, selalu terdapat harapan,” kata Presiden Majelis Nasional Jorge Rodriguez.

(Reuters/ Aljazeera/ El Paiz)

612SHARES1.7kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia