Sabtu, 12 September 2026Indonesia
Kompasia
news

10 Pembelian yang Sering Dilakukan Orang Miskin Tapi Jarang Oleh Orang Kaya

Oleh Pimpinan Redaksi Β· Juni 12, 2026 Β· 3 menit baca Penulis Terverifikasi
AA25qyL4.jpg
βœ“ Penulis Verified

Perbedaan Pola Pembelian antara Orang Miskin dan Orang Kaya

Perbedaan keuangan antara orang miskin dan orang kaya tidak hanya terlihat dari jumlah aset yang dimiliki, tetapi juga dari pola pembelian yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap pilihan belanja mencerminkan prioritas dan kebutuhan yang berbeda, serta dampak jangka panjang terhadap kondisi ekonomi seseorang.

Orang miskin sering kali mengambil keputusan pembelian yang didorong oleh kebutuhan akan kenyamanan instan dan kepuasan segera. Namun, kebiasaan ini sering kali memperparah kondisi keuangan mereka. Di sisi lain, orang kaya cenderung memiliki kemampuan finansial untuk membuat pilihan yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Berikut adalah sepuluh hal yang sering dibeli oleh orang dengan pendapatan rendah namun jarang atau bahkan tidak pernah disentuh oleh orang-orang yang lebih kaya:

1. Pakaian Fast Fashion

Pakaian fast fashion menawarkan harga terjangkau dan tren yang selalu berubah. Namun, banyak dari pakaian ini hanya bertahan satu tahun sebelum dibuang. Orang berpenghasilan rendah sering memilih pakaian jenis ini karena harganya murah, meski kualitasnya tidak ideal. Sementara itu, orang kaya lebih memilih pakaian berkualitas tinggi yang tahan lama dan ramah lingkungan.

2. Bahan Makanan dalam Kemasan Siap Saji

Banyak orang berpenghasilan rendah mengandalkan makanan kemasan karena keterbatasan waktu dan energi. Mereka lebih mudah membeli makanan siap saji daripada memasak sendiri. Di sisi lain, orang kaya biasanya memiliki sumber daya untuk mempersiapkan makanan segar atau menyewa koki. Meski praktis, makanan kemasan bisa berdampak negatif pada kesehatan dan biaya jangka panjang.

3. Tiket Lotre

Data menunjukkan bahwa orang berpenghasilan rendah cenderung menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk tiket lotre. Hal ini dilakukan karena keinginan untuk keluar dari situasi sulit. Namun, peluang menang sangat kecil, sehingga investasi ini justru merugikan secara finansial.

4. Produk Sekali Pakai

Produk seperti piring kertas dan gelas plastik sering menjadi pilihan bagi keluarga berpenghasilan rendah yang ingin praktis. Meskipun terlihat hemat di awal, biaya kumulatif dari produk sekali pakai justru lebih mahal dibandingkan investasi pada peralatan yang bisa digunakan berulang. Orang kaya biasanya lebih memilih solusi yang efisien dan berkelanjutan.

5. Barang Bekas

Membeli barang bekas seperti pakaian, furnitur, atau buku adalah cara umum bagi orang berpenghasilan rendah untuk memenuhi kebutuhan tanpa menguras anggaran. Selain itu, belanja barang bekas juga memberikan manfaat lingkungan dengan mengurangi limbah. Meski beberapa orang kaya menghindari toko barang bekas karena gengsi, sebenarnya ini adalah pilihan yang cerdas secara finansial.

6. Langganan Streaming dan Layanan Berlangganan

Layanan seperti Netflix, Spotify, dan YouTube terlihat murah jika dibayar per bulan. Namun, total pengeluaran bisa sangat signifikan jika dilihat dari jangka panjang. Orang berpenghasilan rendah sering tidak sadar akan besarnya biaya langganan ini. Sementara itu, orang kaya memiliki lebih banyak pilihan hiburan premium yang lebih sesuai dengan gaya hidup mereka.

7. Minuman Berenergi

Banyak orang berpenghasilan rendah bergantung pada minuman berenergi untuk bertahan melalui pekerjaan yang melelahkan. Meski diketahui berdampak negatif pada kesehatan, mereka sering tidak punya pilihan lain. Orang kaya biasanya lebih memilih alternatif yang lebih sehat dan berkelanjutan.

8. Barang-Barang yang Sedang Tren

Orang berpenghasilan rendah juga ingin menikmati kegembiraan dari barang yang sedang populer. Ini adalah keinginan yang wajar dan manusiawi. Sementara itu, orang kaya cenderung menghindari produk mainstream dan lebih memilih item eksklusif yang tidak mudah dikenali oleh konsumen umum.

9. Perbaikan Cepat dan Sementara untuk Masalah Besar

Ketika tidak ada dana darurat, orang berpenghasilan rendah sering memilih solusi murah dan sementara untuk masalah besar. Namun, pendekatan ini sering berujung pada biaya yang lebih besar karena masalah yang ditunda berkembang menjadi lebih serius.

10. Pembelian dalam Jumlah Besar Sekaligus

Membeli dalam jumlah besar adalah strategi penghematan yang umum di kalangan keluarga berpenghasilan rendah. Diskon pembelian massal memungkinkan mereka menghemat uang dan membangun persediaan darurat. Sementara itu, orang kaya tidak perlu melakukan hal ini karena stabilitas finansial mereka memungkinkan pembelian kapan saja tanpa harus memikirkan penghematan setiap saat.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia