AA20kOC7.jpg
AA20kOC7.jpg

KPK Perluas Penyidikan Kasus Suap di Lingkungan Bea Cukai

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto memberikan respons terkait munculnya nama Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Djaka Budhi Utama, dalam kasus dugaan suap. Nama tersebut muncul dalam sidang perkara yang menjerat sejumlah pejabat di lingkungan Ditjen Bea Cukai. Menurut Setyo, penyidik KPK sedang menyusun strategi untuk mengembangkan penyidikan terkait kasus ini.

Ringkasan Cepat
  • kpk perluas penyidikan kasus suap di lingkungan bea cukai ketua komisi pemberantasan korupsi (kpk) setyo budiyanto memberikan respons terkait munculnya nama direktur jenderal bea dan cukai kementerian keuangan, djaka bud…
  • nama tersebut muncul dalam sidang perkara yang menjerat sejumlah pejabat di lingkungan ditjen bea cukai.
  • menurut setyo, penyidik kpk sedang menyusun strategi untuk mengembangkan penyidikan terkait kasus ini.
  • “strategi itu nanti akan dilaporkan.
Daftar Isi
  1. KPK Perluas Penyidikan Kasus Suap di Lingkungan Bea Cukai
  2. Sidang Perkara Dugaan Suap Mengungkap Nama Djaka Budhi Utama
  3. Penjelasan Tentang Kode Amplop Coklat
  4. Detail Kode Amplop dan Nilai Uang yang Diterima
  5. Penyidikan KPK Terus Berlanjut
  6. 🔥 Postingan Populer
  7. AutoIndex: Portal Berita & Media Online

“Strategi itu nanti akan dilaporkan. Informasi yang didapatkan dan kesesuaian antara pemeriksaan,” ujar Setyo saat ditemui di Anyer, Banten, pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia belum menjelaskan secara rinci strategi yang akan diambil, karena masih menunggu hasil pendalaman dari penyidik KPK. “Itu nanti pasti diolah oleh Kedeputian Penindakan dan di situlah nanti dilaporkan strategi apa yang akan dilakukan penyidik,” tambahnya.

Sidang Perkara Dugaan Suap Mengungkap Nama Djaka Budhi Utama

Sebelumnya, nama Djaka Budhi Utama muncul dalam persidangan pemilik PT Blueray Cargo, John Field, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada Rabu, 20 Mei 2026. Djaka diduga menerima uang SG$ 213 ribu terkait dengan kasus suap impor dalam sidang pemeriksaan saksi Orlando Hamonangan Sianipar alias Ocoy.

Orlando, yang kini berstatus tersangka, menjelaskan bahwa John Field bersama seorang bernama Tuti tiba-tiba datang ke kantornya pada Agustus 2025. Ia mengatakan bahwa John Field membawa uang untuk diberikan ke sejumlah pejabat bea cukai. “Saya bilang ‘kalau ini, saya tanya dulu, nih, sama bos saya’,” kata Orlando.

Jaksa KPK, M. Takdir Sugan, meminta Orlando memastikan siapa sosok bos yang dimaksudnya. Orlando mengatakan bahwa bos tersebut adalah Sisprian Subiaksono, Kepala Subdirektorat Intelijen Direktorat P2 Bea Cukai, yang juga terjerat dalam perkara ini.

Penjelasan Tentang Kode Amplop Coklat

Dalam pertemuan tersebut, Orlando meminta John Field memberikan uang langsung ke atasan-atasannya. Namun, pengusaha itu tetap menitipkan kepadanya. “Di situ lah, tadi Pak Orlando menyampaikan bahwa ‘untuk yang jatahnya bos, baik itu untuk Djaka, Rizal, Sisprian langsung saja kepada Pak Bos’. Begitukah maksud saksi?” tanya jaksa.

Djaka merujuk pada Dirjen Bea Cukai. Sedangkan Rizal merupakan Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai, sekaligus tersangka perkara ini. “Gini pak, pokoknya semuanya bagikan aja langsung ke orang yang masing-masing,” jawab Orlando.

Jaksa kembali bertanya: “bagikan masing-masing langsung kepada bos-bos yang tadi saya sebutkan itu?”
“Saya enggak tahu, pak, kan pakai kode,” jawab Orlando. Dia menjelaskan, ada kode di setiap amplop coklat berisi uang yang diberikan oleh pihak Bluray.

Detail Kode Amplop dan Nilai Uang yang Diterima

Jaksa KPK sempat memperlihatkan foto amplop-amplop coklat. Ada kode di tiap amplop yang berisi uang dolar Singapura. Jaksa kemudian merincikan kode-kode tersebut, yaitu: kode 1 merujuk pada Djaka Budhi Utama selaku Dirjen Bea Cukai; kode 2 atau BR adalah Rizal selaku Direktur Penindakan dan Penyidikan Ditjen Bea Cukai; kode SS atau SIS merujuk pada Sisprian; kode OC adalah Orlando; kode ITL merupakan kode uang kas seksi intelijen; kode FLD adalah Valdi selaku Kepala Seksi Dukungan Operasional Intelijen Bagian Data; Hendi selaku Kepala Seksi Fasilitas; dan BY adalah Budiman Bayu selaku Kepala Seksi Intelijen Cukai.

“Izin majelis, kami tegaskan yang 1 adalah Dirjen Bea Cukai. Nilainya SG$ 213.600. Kami yang tegaskan, ya, karena kami punya bukti ini,” kata jaksa Takdir. Dia juga merincikan, Orlando menerima SG$ 42.800, Valdi SG$ 7.200, Budiman Bayu SG$ 5.400, hingga Hendi SG$ 5.400.

Menurut jaksa, angka-angka itu hanyalah satu kali penerimaan. Sementara Orlando mengatakan, ada enam kali penerimaan amplop.

Penyidikan KPK Terus Berlanjut

Sebelumnya, nama Djaka Budhi Utama juga muncul dalam dakwaan tiga terdakwa swasta perkara suap pada Rabu, 6 Mei 2026 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Ketiganya adalah pemilik Blueray Cargo, John Field; Manajer Operasional Blueray Cargo, Dedy Kurniawan; dan Ketua Tim Dokumen Importasi Blueray Cargo, Andri.

Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo, tidak banyak berkomentar ihwal nama pimpinannya masuk dalam surat dakwaan. “Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan di pengadilan, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah,” ujarnya ketika dikonfirmasi Tempo pada Kamis, 7 Mei 2026.

Budi menuturkan, perkara ini sudah masuk ke tahap persidangan. Untuk menghormati dan menjaga independensi proses peradilan, pihaknya tidak akan berkomentar mengenai substansi perkara. Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama belum menanggapi soal namanya masuk dalam surat dakwaan John Field dkk. Hingga berita ini ditulis, pesan dan telepon Tempo belum direspons.

946SHARES9.9kVIEWS
Rating Artikel: ★★★★★ (5/5 dari 1,661 ulasan)

Share this content:

8af7c997b935b7c4511af7a8f293314c8b23370a9faab25876ea06c6dd15b252?s=96&d=mm&r=g Kata Kepala KPK Soal Nama Dirjen Bea Cukai Muncul di Persidangan
Author: Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Kata Kunci Terkait

By Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan